Teman Di Kepala

Ayam belum juga berkokok, udara terasa sangat dingin menusuk tulang.  Musim bediding, kata orang Jawa. Musim yang merupakan awal musim kemarau namun udara sangat dingin di malam dan pagi hari. Musimnya orang pilek.

Tapi rasa dingin tak dihiraukannya, dengan sedikit terhuyung didera kantuk yang masih melekat, ia menuju kamar mandi di bagian belakang rumahnya dan mengambil air wudhu. Lalu kembali ke kamar guna mengambil baju koko dan kopiah hitam miliknya. Istrinya masih tertidur pulas di balik selimut. Continue reading “Teman Di Kepala”

Kecap di nasi Padang

Siang hari, seperti siang hari yang lain di kantor saya. Rekan kerja satu ruangan membahas menu makan siang. Cuaca terlalu terik untuk kami keluar kantor guna makan di luar. Ya, semalas itulah kami, dan seenggan itulah kami tersengat sinar matahari. Nasi Padang, keputusan kami bulat.

Saya lalu memanggil OB untuk mencatat pesanan menu saya dan teman-teman lain, untuk kemudian membelikannya di rumah makan Padang langganan kami. kami lanjut berbincang tentang apa saja, sembari menunggu datangnya nasi Padang kami.

Continue reading “Kecap di nasi Padang”

Pria dan Perasaan

“Dasar laki-laki gak punya perasaan!”, pernah dengar ungkapan seperti itu? Saya yakin pernah. Ungkapan ini umumnya diucapkan atau ditulis oleh kaum hawa, baik dalam kondisi marah atau obrolan santai bersama koleganya.

Saya tahu tulisan ini akan memicu pertengkaran baru antara saya dan beberapa kawan feminis saya. Tapi setidaknya, bersediakah kalian membacanya hingga ujung?

Continue reading “Pria dan Perasaan”

Bahagia

Suatu sore, saya ingat bertanya pada mbah kakung saya dari bapak. Saya masih SMP waktu itu. Kakek saya hidup sebatang kara bersama satu cucu laki-lakinya yang ditinggal Ibu kandungnya merantau mencari uang. Usianya simbah kala itu sudah 80-an, namun masih tegap berdiri dan mampu ngambil uang pensiunan dengan berjalan kaki setiap bulannya.

Simbah saya itu orangnya pendiam. Tiap kali saya berkunjung (karena saya tinggal di lain kota), tak banyak yang dilakukannya, selain memastikan apakah saya lapar atau haus, juga menanyakan apakah saya kedinginan atau diganggu nyamuk kala malam hari.

Continue reading “Bahagia”

Ngopi

Belakangan, ngopi itu sebuah hal yang merepotkan. Setidaknya buat saya. Jadi, ngopi itu jadi mirip kehidupan, makin rumit. Cialat tenan!

Apa pasal? Beberapa waktu belakang, saya yang sudah sejak kecil minum kopi, dikagetkan dengan pernyataan: “Jangan ngaku pecinta kopi kalau kopinya kopi sachetan!”. Sejak kecil, saya minum kopi kampung. Kopi tumbukan sendiri. Tak pusing apa jenis kopinya. Pokoknya disangrai lalu ditumbuk dan diayak halus sebagaimana kopi kampung lainnya.

Continue reading “Ngopi”

Kesepian

Mari kita bicara soal kesepian. Kesepian yang sering kita coba kalahkan dengan berada di tengah banyak orang sekaligus dan setiap saat, kesepian yang coba kita kalahkan dengan mempunyai kawan sebanyak mungkin, kesepian yang coba kita taklukkan dengan menjadi sesibuk mungkin bersama orang lain.

Juga kesepian yang sama yang kita salah-sangkakan hanya bisa kita alami jika kita, sendirian, berada di tempat terpencil dan tanpa alat komunikasi apapun. Kesepian, yang bagi saya seperti ada semacam lubang yang perlahan-lahan memakan segala sesuatu di sekitarnya, dan tumbuh membesar tiap saat, dan itu berada di dalam dada kita, atau kepala, entahlah. Continue reading “Kesepian”

The Accountant

Ayolah! Ini film Batman! Spoiler alert!

Semalam saya nonton film The Accountant, yang diperankan oleh Ben Affleck (yang juga meranin Batman*), karena tertarik sejak pertama nonton trailernya di Youtube. Sepanjang waktu saya menonton, terus-terusan saya mbatin bahwa ini adalah film Batman yang lebih Batman daripada Batman V Superman!

2b1283803254f3b4023bcea5817bfcb76b0406ae0bbc527c2ac7fef7ee6b1351_large

Continue reading “The Accountant”