Penthol

Saya di usia yang sudah bukan kanak-kanak ini masih saja suka jajan layaknya anak-anak kecil. Selain untuk intermezzo mengenang masa kecil, ini juga saya lakukan saat saya lapar tapi ogah makan nasi atau makanan yang berat lainnya.

Jajanan yang paling sering saya santap itu penthol, cilok (aci dicolok) atau bakso tusuk.

Iya, jajanan berupa bakso jadi-jadian dimana porsi tepung kanjinya mendominasi sedang daging sapi atau ikannya hanya sebagai peluruh kewajiban –asal bau.

Setelah dimasak dalam bentuk bulatan layaknya bakso, sang penthol lalu ditusuk dengan lidi atau tusuk yang terbuat dari bambu untuk kemudian dicelupkan ke sausnya. Saus yang sangat diragukan kebersihannya sangat diragukan, memang entah dibuat dari campruan apa saja.

Tapi, tetap saja –bagi saya jajanan itu sangat enak.

Nah, hari kamis lalu saya kembali jajan penthol. kebetulan saya nemu satu penjual yang sedang lewat di depan KPPN Tobelo.

Dengan harga penthol Rp. 1.000,00/ butir, saya membeli 15 butir!!

Saya sempat berbincang-bincang dengan pedagangnya. Dan selalu saja di tiap obrolan yang keliatannya asal ngisi waktu, endingnya saya malah ngitung omzet!

Jadi, pedagang-pedagang itu dipimpin oleh satu orang bos. Dimana satu bos biasanya memiliki lebih dari sepuluh anak buah. Rupanya dengan harga penthol yang sangat mahal itu (dibandingkan dengan di Jawa), satu orang pedagang bisa menjual lebih dari 300 buah penthol dalam waktu setengah hari.

Bahkan, menurut informasi pedagangnya, penjualan penthol di Pulau Morotai bisa mencapai 600 butir penthol per hari per pedagang!!

Silakan kalikan harga dengan penjualannya. Menggiurkan bukan?

Kembali ke penthol!

Nah, makan penthol buat lelaki seumuran saya itu beda nuansanya. Wuih! Iya, nuansanya berbeda.

Biasanya jika menghadapi sepiring penthol, saya dan teman-teman akan khusus ngobrol soal masa kecil kami masing-masing. Begitu penthol habis, terlihat di wajah-wajah kami semua begitu sebalnya kami tidak bisa tetap menjadi anak-anak.

Atau seperti yang diceritakan oleh Istri saya bulan lalu dimana dia bersama rekan-rekan kerjanya plus kepala kantornya mencegat tukang penthol dan menyantapnya rame-rame. Jelas di sini penthol bukan sekedar jajanan. Ada nuansa lain.

Ayak! Gimana, apa jajanan anda?

7 thoughts on “Penthol”

  1. Semakin jauh dari Jakarta ya semakin mahal jajanan. Soalnya jalur distribusinya panjang. Hehehehe. Makanya yang menanggung ekonomi biaya tinggi ya yang jauh2 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *