Kala Eddie Vedder Dimabuk Cinta

Saya suka dengan Nirvana, namun saya cinta Eddie Vedder. Ucapan itu saya ucapkan kala masih duduk di bangku SMA. Karena tidak seperti “rivalnya”, Kurt Cobain, Eddie Vedder –bersama Pearl Jam tak membiarkan diri mereka untuk dikuasai oleh industri. Kurt boleh saja jadi model anti kemapanan bagi para remaja kala itu, tapi Eddie adalah pemberontak sejati.

Dan Eddie, dengan atau tanpa Pearl Jam masih berjaya hingga 20 tahun kemudian.

Ini tulisan kedua saya mengenai Eddi Vedder setelah sebelumnya saya menulis mengenai album soundtrack film “Into The Wild”. (Maaf ndak ada link-nya, blog lama sudah dihapus).

Album terbarunya ini menceritakan tentang cinta, kehilangan dan kehidupan. Hal ini dia lakukan hanya dengan suara bariton emasnya dan… ukulele. Bahkan albumnya sendiri secara sederhana diberinama “Ukulele Songs”.

Berisi 16 lagu yang 5 di antaranya adalah cover version. Bisa dibayangkan seolah Eddie Vedder adalah seorang penulis puisi yang tengah membacakan puisi-puisinya dengan ditemani alunan ukulele. Dia tak membutuhkan suara penuh distorsi untuk menutupi kekosongan atau kehampaan. Dia hadir dalam hening dalam kedalaman yang menghanyutkan.

Lengkap sudah, selain prestasinya bersama Pearl Jam, Vedder mampu membuktikan diri sebagai penulis lagu yang mumpuni yang tidak berlebihan jika disandingkan sejajar dengan John Lennon, Bob Dylan, Pete Townshend, dan Tom Waits.

Tentu saja keindahan yang saya tuliskan tidak akan anda temukan jika anda penggemar musik industri. Anda hanya akan melihatnya sebagai album seorang frontman band grunge yang menua.

Namun jika anda menyukainya, mengingat begitu mengagumkannya yang dia bisa lakukan dengan ukulele dan suara bariton-nya, bagaimana jika dengan full instrumen?

Apa kabar album terbaru Pearl Jam??

3 thoughts on “Kala Eddie Vedder Dimabuk Cinta”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *