Isteriku

Wanita itu kuintip kala sedang tidur tadi malam. Di sampingnya ada anak lelakinya yang juga pulas tertidur. Wanita itu isteriku. Aku terbangun cukup pagi hari ini, setelah bolak-balik ganti channel TV dan tak ada yang menarik, kuintiplah isteri di dalam kamar.

Wanita yang kukenal sejak 2005 ini telah banyak berubah. Siapa yang tidak? Tapi dia tetap juara di hatiku.

Kisahku dengannya jelas bukan materi yang cocok dijadikan kisah romantis a la film. Kehidupan kami biasa saja. Jatuh dan bangun dilalui bersama dengan cara kami masing-masing. Dan tak sadar kami sudah terlempar ke tahun 2012.

Isteriku,  aku sadar dan tahu betul aku jauh dari yang kau harapkan. Baik sebagai suami, kawan atau ayah bagi anakmu. Aku tahu itu.

Dan celakanya kau menjadi wanita yang hebat di mataku. Hebat, karena kau bisa bertahan denganku dengan segala yang kita alami. Tak mudah bukan? Jempol lima untukmu!

Aku tak bisa menjanjikan banyak hal untukmu, bahkan bisa dibilang aku tak bisa menjanjikan apa-apa untukmu! Yang bisa kulakukan adalah terus belajar menjadi temanmu. Bullshit kalo kubilang aku akan mencintaimu selamanya. Omong kosong kalo aku bilang aku akan selalu menemanimu kemana saja. Karena kita tidak pernah tahu.

Semalam, saat mengolesimu dengan Counterpain™ karena sakit pinggangmu yang tak tertahankan, aku berpikir. Aku takkan berpura-pura suka melakukannya agar dibilang sayang. Kau juga tahu aku sangat tidak nyaman dengan bau-bauan semacam itu. Maka kubilang: “tunggu dulu…” saat kau memintaku memijitmu.

Ya, kau tahu aku tak akan pasang tampang sok mesra dan bergegas memijitmu dan mengolesimu dengan Counterpain™ . Tidak, kau tahu itu. Aku meminta waktu karena aku harus membulatkan tekad hanya untuk mencium bau balsam. Dan berdoa untuk tidak muntah.

Jadilah aku mengurut punggungmu sambil mengernyitkan dahi dan menahan muntah. Itu mungkin yang namanya cinta. Tapi tidak dibuat-buat.

Begitu juga dengan dirimu, kau selalu menjadi dirimu di depanku. Kau tak perlu menjadi seperti orang lain, karena ini hidup kita.

SELAMAT ULANG TAHUN, ISTERIKU…

Ya, aku terbangun dan tak serta merta membangunkanmu hanya untuk menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padamu, kupikir tak perlu. Aku yang pertama yang mencuri hatimu, aku yang pertama meminangmu dan aku juga yang pertama memerawanimu! 🙂

Menjadi yang pertama, tidak lantas membuat kita menjadi yang terbaik. Dan aku ingin menjadi yang terbaik. Setidaknya menjadi lebih baik dari yang sekarang. Untukmu.

Terima kasih atas semua cinta dan pengabdianmu, meski kuakui begitu kurang kuhargai dan kusyukuri. Aku ingin menjadi temanmu. Selalu.

DAN PERCAYALAH SEPERTI HALNYA SAAT KAU MEMINTAKU MEMBALSAMIMU, I WILL DO ANYTHING FOR YOU…. EVENTUALLY!

NB: Maaf, tak ada pesta maupun hadiah yang mewah untukmu. Aku tahu dirimu tak menyukai itu. Hari masih panjang, temani aku hingga petang! Aku mencintaimu dari dulu… Sampai ketemu sore nanti!

10 thoughts on “Isteriku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *