Pohon

Sore tadi, saya mengendarai sepeda motor tua milik saya, tua karena otor tersebut diproduksi terlebih dahulu sebelum saya lahir. Saya memacu motor saya menuju kawasan tempat pembuangan akhir sampah Gunung Tugel. Kemudian saya memarkir motor saya di pinggir jalan, telat di bawah sebuah pohon trembesi.

Cuaca cukup panas, debu berterbangan dan tanah pecah merekah, maklum musim kemarau. Sambil menghisap sebatang rokok, saya duduk menatap pohon itu. Lalu membatin: “Jadi udah mau tiga tahun umurmu?”.

image

Keterangan: gambar diambil pada 17 Agustus 2015.

Ingatan kembali terlempar pada kejadian di waktu lalu. Suatu pagi saya dihubungi oleh kawan baik saya, teman satu almamater di SMA, menanyakan apakah saya punya waktu senggang.

Rupanya kawan saya ini hendak mengajak saya menanam pohon. Dan bersama dua kawan lain, terkumpullah empat lelaki berusia awal tiga puluhan yang cegengesan dan mempunyai selera humor aneh.

Menanam pohon. Ya, menanam pohon. Itu ajakan kawan saya. Dan ketila saya pastikan saya sedang surplus waktu senggang, sayang langsung saja mengiyakan ajakan tersebut.

Awalnya saya kira hanya saya yang mengiyakan ajakan menanam pohon itu begitu saja tanpa banyak tanya. Dua kawan lain konon kabarnya juga demkian, mau-mau saja diajak untuk menanam pohon.

image

Keterangan: gambar ini diambil pada Februari 2014.

Menggunakan mobil, kami angkut bibit-bibit pohon trembesi yang pembibitannya dilakukan sendiri oleh kawan saya itu. Lalu satu persatu, kami tanam di pinggir jalan. Celakanya, kami adalah tipikal pekerja kantoran, sehingga kegiatan menanam pohon seperti ini sangat meyiksa kami baik secara fisik maupun mental.

Darimanakah bibit pohon trembesi kami dapatkan? Ceritanya juga tak biasa. Setidaknya bagi saya. Menurut kawan saya, suatu ketika dia sedang berjalan-jalan di bawah naungan pohon trembesi, lalu tiba-tiba muncul ide untuk memunguti biji-bijinya yang kemudian dia semai di rumah.

Beberapa waktu kemudian, pekarangan rumahnya penuh dengan bibit pohon trembesi. Dan mulailah dia mengumpulkan kawan-kawannya untuk menanam atau membagi bibit-bibit tersebut hingga habis.

Nah, dengan asal muasal bibit tersebut, saya makin yakin bahwa saya tak butuh banyak alasan dan pertanyaan bagi saya dalam memutuskan apakah saya mau dilibatkan ataukah tidak. Saya tak punya kawan lain yang seiseng ini.

image

Keterangan: gambar ini diambil pada November 2014.

Sepanjang waktu kami menanam, seingat saya tak pernah kami membahas mengenai kerusakan lingkungan, gundulnya hutan, global warming dan sebagainya. Tak pernah.

Apa yang kami bahas? Namanya juga laki-laki, kami membahas segalanya, dari yang serius sampai yang ami beraroma kelamin. Humor jorok begitu melimpah ruah. Satu persatu pohon kami tanam.

Bahkan pada suatu hari saya berdua kawan saya itu mendatangi almamater SMA kami dan menawarkan bibit pohon trembesi tersebut untuk ditanam di lingkungan sekolah.

Tak terasa, waktu begitu cepat bergulir, pohon-pohon yang kami tanam sudah tinggi menjulang. Jangan heran jika suatu saat nanti kami didapati tengah berada di sekitar pohon kami bersama anak cucu kami, dengan bangga bercerita tentang sejarah pohon trembesi di sana.

Ini akan menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan. Semoga.

Terima kasih, teman-teman!

6 thoughts on “Pohon”

  1. Hmmm.. Iya juga ya. Menanam pohon itu berarti mewariskan sesuatu untuk anak cucu. Menanam jejak di suatu tempat. Pada saat yg sama menanam kenangan juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *