Pria dan Perasaan

“Dasar laki-laki gak punya perasaan!”, pernah dengar ungkapan seperti itu? Saya yakin pernah. Ungkapan ini umumnya diucapkan atau ditulis oleh kaum hawa, baik dalam kondisi marah atau obrolan santai bersama koleganya.

Saya tahu tulisan ini akan memicu pertengkaran baru antara saya dan beberapa kawan feminis saya. Tapi setidaknya, bersediakah kalian membacanya hingga ujung?

Hidup dalam dunia yang penuh dikotomi memang lebih mudah, yang ada itu hitam dan putih, kalo tidak A ya B. Mudah. Tapi apakah realitanya memang begitu? Tentu tidak. Kita sepakat bahwa hidup itu tidak melulu hanya hitam dan putih.

Beberapa minggu ini saya memikirkan hal yang buat banyak orang tidak penting, remeh atau memicu respon seperti: “Gitu aja dibahas!”, dan sebagainya.

Ijinkan saya bercerita.

Kisah ini bisa ditemui di mana saja, saya rasa. Karena remeh, dan sering digunakan sebagai ajang basa-basi. Pernahkah kalian mengamati bahwa mengatakan seorang pria itu gemuk, berperut buncit, berkulit hitam, pendek dan atau botak itu dianggap hal yang lumrah, bahkan di muka umum? Baik di rapat, obrolan di warung, atau di kendaraan umum.

Yang saya bicarakan di sini tentu hubungan antar personal yang saling kenal, tentu saja. Bukan orang asing yang tak saling kenal. Dan ini berlaku baik pelakunya berkelamin laki-laki ataupun perempuan.

Tapi laki-laki, termasuk saya, akan menganggap omongan yang bersifat ejekan itu dengan lapang dada, sebagai angin lalu jika datang dari sesama laki-laki. Dan saya juga belajar untuk menerima dengan dada yang dilapang-lapangkan jika omongan semacam itu berasal dari kaum wanita.

Oke, ini daftar kata-kata yang pernah saya terima dari lawan jenis, yang menurut mereka hanya guyon belaka. Ya, semua kalimat ini dianggap sebagai guyon semua oleh si pengucap.

“Dasar gendut!”

“Ya ampun perutnya makin gede aja..”

“Potongan rambutmu aneh!”

“Itu bulu-bulu di wajahmu bikin kamu kayak gelandangan.”

“Kulitmu hitam juga ya?”

“Udah tua, jangan kayak kecil ah!”

“Maju perut pantat mundur nih mas? Hehehehe…”

dan lain sebagainya.

Saya paham benar, hal-hal di atas diucapkan sebagai bumbu obrolan, basa-basi atau bahkan sebagai pertanda keakraban satu sama lain.

Sekarang, dengan tujuan tadi, bayangkan apa yang akan saya dapatkan dari lawan jenis jika saya adalah seorang laki-laki gendut, berbadan pendek, tak bisa ngomong huruf r (cadel), berkulit hitam dan sekaligus botak?

Tentu, lawan jenis (juga sesama jenis) tak akan komentar soal apakah saya ganteng atau jelek. Terlalu berani kalau bermain di area itu.

Kita sepakati dulu bahwa segala kalimat di atas tadi murni guyon. Oke? Lantas, otak saya lalu akan mencerna, itu sebagai guyon dan juga fakta bahwa semua itu memang benar adanya. Saya gendut, saya hitam dan sebagainya.

Lalu, apakah cara bekerjanya memang begitu? Bahwa mengungkapkan fakta, lalu jika memang itu hal-hal yang sensitif, kita bisa lalu membungkusnya dengan: “Ini cuman guyon lho ya…”?

Jika lantas saya juga melakukan yang sama kepada lawan jenis, apakah saya akan diterima dengan lapang dada atau setidak-tidaknya dengan dada yang dilapang-lapangkan?

Dan daftar yang bisa saya gunakan tentu lebih banyak dibanding bahan tertawaan dari tubuh laki-laki bukan?

Baju kedodoran, warna norak, model yang tak pas, atau bahkan terlalu ketat. Badan gemuk, terlalu kurus. Kulit gelap, atau kulit terlalu pucat. Tata rias yang berantakan, lipstik yang morat-marit, sapuan yang tak rata, lipstik nempel di gigi, alis yang terlalu tebal, tak sama kiri-kanan. Rambut yang potongannya tak rapi, terlalu pendek atau warna cat yang tak merata. Payudara terlalu kecil atau terlalu besar. Pantat tepos atau pantat yang terlampau besar. Dan lain sebagainya. Daftar ini bisa sangat panjang.

Tapi pernahkah kalian mendengar kaum laki-laki ‘guyon’ kepada lawan jenis dengan santai menggunakan materi itu di muka umum? Bukankah kaum pria yang tak punya perasaan? Atau kaum pria tak melakukannya karena enggan terlibat keributan lebih lanjut jika melakukannya? Lantas kenapa pria tak ribut ketika diolok-olok oleh lawan jenis, yang opini tentangnya lebih mengena di hati dibanding dari yang sesama laki-laki?

Tentu kaum laki-laki sering membahas perempuan dengan materi sebagaimana yang saya sebutkan di atas, tapi dilakukan ketika berada di antara kaumnya. Kecuali laki-lakinya sakit jiwa, tentu saja. Dan saya rasa perempuan juga melakukan yang kurang lebih sama ketika berada di antara kaumnya. Bukan?

Dan ini sama-sama menyampaikan fakta yang ada. Tidak membahas soal apakah paras si perempuan cantik atau tidak. Bolehkah? Sedangkan beberapa tahun belakangan, menanyakan umur kepada lawan jenis saja bisa dianggap sebagai dosa besar lho.

Apakah alasan bahwa sesuatu hanya sebatas guyon itu sudah terlalu sering dijadikan alasan agar lepas dari tanggung jawab jika kita melukai orang lain? Bukankah aslinya ada fungsi lain dari guyon? Bahwa kita bisa menyampaikan sesuatu yang berat dengan santai? Layaknya puisi, yang ingin bilang begini tapi dengan cara begitu.

Menutup tulisan ini, tahukah kalian siapa yang paling sering beralasan bahwa hal-hal yang dilakukan hanyalah sebatas guyon? Tukang bully.

Dan jika olok-olok itu dianggap serius oleh obyek olok-olok, kita sering menganggapnya terlalu sensitif. Tahukah kalian, siapa yang sering dianggap terlalu sensitif? Yak tul. Korban bully.

Jika dengan tulisan ini lalu saya dianggap sebagai bullying, saya akan membantahnya dengan tegas.

Ini hanya guyon!

One thought on “Pria dan Perasaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *