Ngopi

Belakangan, ngopi itu sebuah hal yang merepotkan. Setidaknya buat saya. Jadi, ngopi itu jadi mirip kehidupan, makin rumit. Cialat tenan!

Apa pasal? Beberapa waktu belakang, saya yang sudah sejak kecil minum kopi, dikagetkan dengan pernyataan: “Jangan ngaku pecinta kopi kalau kopinya kopi sachetan!”. Sejak kecil, saya minum kopi kampung. Kopi tumbukan sendiri. Tak pusing apa jenis kopinya. Pokoknya disangrai lalu ditumbuk dan diayak halus sebagaimana kopi kampung lainnya.

Continue reading “Ngopi”

Tambah Volumenya, Mas! Pol!

Tujuh tahun adalah waktu yang cukup lama bagi sebuah band yang baru punya satu album untuk kemudian merilis album kedua. Waktu yang teramat panjang bagi sebuah band rock untuk mengumpulkan ide dan materi di sela-sela jadwal tur dan manggung di sana-sini. Tapi juga waktu yang sangat luang bagi mereka untuk disorientasi, jenuh dan amnesia.

Adalah The SIGIT, yang beberapa waktu lalu merilis album kedua mereka dengan tajuk “Detourn”. Bagi yang ndak kenal, The SIGIT itu band asli Indonesia, keliatan kan dari akronimnya? Tapi ‘The SIGIT’ sendiri mempunya kepanjangan “The Super Insurgent Group of Intemperance Talent” yang ditulis The S.I.G.I.T. atau lebih mudahnya The SIGIT.

Continue reading “Tambah Volumenya, Mas! Pol!”

Jalan-jalan Ke Buli, Halmahera Timur

HARI kamis lalu saya bersama kepala seksi saya dinas ke buli, sebuah desa di Kabupaten Halmahera Timur. Tujuan kami tak lain tentu saja hanya mau melakukan pemeriksaan sebuah perusahaan tambang di sana. Berikut ini ceritanya.

Buli, adalah desa yang hadir dan berkembang karena adanya perusahaan tambang disana. Penduduknya multi etnis, baik penduduk asli, pendatang dari ternate, bugis, buton, gorontalo, jawa dan tentu saja etnis tionghoa ada disana. Untuk ukuran Indonesia Timur, buli termasuk rame. Tapi untuk ukuran sampeyan yang tinggal di jawa, buli itu neraka.

Ya, pusat keramaian di buli hanya pasar yang buka jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Jalanan yang becek. Dan tentunya sepi.

Jam setengah 11 pagi hari kamis saya dan bos saya berangkat ke Buli menggunakan pesawat Trigana Air. Perjalanan hanya 20 menit. Alhamdulillah cuaca lagi cerah. Turun dari pesawat, feeling saya mulai gak enak. Bayangkan saja kalo sampeyan turun di pesawat kayak turun dari angkot pas musim hujan. Bandara apa ini? Kok becek???

Celana dan sepatu saya penuh lumpur. Ponsel saya hanya menunjukkan satu – dua bar tanda daerah bandara Buli ini miskin sinyal. Saya dan Kasi saya benar-benar buta arah dan transportasi menuju daerah tambang yang kami periksa. Beruntung kami berjumpa dengan (sebut saja) BapakMaman Sumaman, pegawai PT Aneka Tambang yang kebetulan sedang menjemput tamu.

Dengan bahasa sunda yang terpatah-patah saya mencoba menanyakan kemungkina transportasi yang paling efektif menuju Perusahaan Tambang yang hendak kami periksa. Efek Psikologis yang saya harapkan terjadi juga.

Begini, menurut sampeyan nama Maman Sumaman yang terpampang di name tag itu nama orang mana? Otak saya langsung menangkap bahwa nama seperti itu atau Dadang Sudadang atau Cecep Gorbacep adalah orang sunda. Dan seperti jutaan perantau lainnya akan sangat senang jika perasaan kerinduan akan kampung halaman ada yang menyentuhnya. Hasilnya?

“Bapak naik bis bandara dulu nanti mintya turun di PT Antam, dari sana saya akan antar Bapak-bapak. Soalnya mobil kami penuh jadi kita bertemu di sana saja, Oke, Pak?”

Senyum saya melebar…

BULI, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur adalah sebuah desa kecil yang termasuk rame untuk ukuran desa di pulau Halmahera. Saya akui saya berharap terlalu banyak saat hendak berkunjung kesana. Saya terlalu antusias dengan kata “rame”.

Transportasi darat adalah cobaan terberat saat saya bersama Kasi saya yang telah saya tulis di sini. Hanya mobil-mobil yang terpilih yang bisa bertahan di jalur darat Buli yang semuanya bagai jalur off road. Mobil yang paling banyak saya jumpai disini adalah mobil Mitsubishi Strada. Ya, butuh performa mesin yang bukan main-main untuk bisa melalui jalanan di sana.

Lebih terkejut lagi ketika saya sampai di pusat kota Buli dimana mobil yang dipakai untuk transportasi umum antar kota seperti Buli – Subaim – Sofifi (calon Ibukota Propinsi Maluku Utara) kebanyakan bernilai 500 juta ke atas! Jarak Buli dengan Subaim yang berjarak kurang lebih 40 km harus ditempuh selama 4 jam!! Bayangkan jika sampeyan menggunakan mobil ceper bermesin melempem?!

Ongkos mobilnya juga gak baen-baen. Untuk trayek Buli – Subaim kita harus merogoh kocek Rp. 200 ribu! 40 km seharga 200 ribu??? Dan Subaim – Sofifi harus keluar uang kurang lebih 300 ribu lagi itupun harus ditempuh selama 5 jam pula!

Perjalanan darat adalah alternatif kami berdua untuk pulang ke ternate karena penerbangan baru ada hari selasa minggu depan. Dari Buli kami berencana Ke Subaim lalu nyambung ke Sofifi. Dari Sofifi kami berencana naik speed boat menuju Ternate. What a plan!

Anda mengeluh jalanan berlubang atau rusak? Ndak malu sama penduduk pedalaman? Kita sama-sama orang Endonesia lho….

Pejabat Coret Mental Gembel

Kadang saya bingung dengan diri saya (tentu saja orang lain pun sering bingung tentang saya). Di satu sisi kadang kalanya saya anti dengan hal-hal yang bersifat darurat, tapi saya juga sering kali bertingkah macam gembel. Percaya atau tidak saya sering sekali tidur di kantor. baik sekedar untuk lembur atau memang lagi ndak mau pulang ke rumah (toh saya ini bujang geografis).

Saya kok jadi sering ngelamun, seandainya saya kerja di hotel tentunya minimal bisa menikmati kasur yang enak di kantor sendiri. Ah sekedar angan-angan.

Bagaimanakah saya tidur di kantor saya?

Tentunya di kantor saya tidak ada yang namanya tempat tidur. Jadi tidur di kasur sudah sangat jarang saya lakukan. Jika saya dipasrahi kunci ruang server tentunya akan nikmat karena bisa molor di atas karpet (agak) tebel dan AC yang sejuk. Kalo tidak?

Kantor saya ini kantor darurat, karena bangunan yang lama sedang di bangun kembali setelah dianggap tidak layak untuk digunakan. Nah di kantor sementara yang dulunya bekas minimarket ini, tak ada musholla! Ya, kantor memang dekat dengan masjid jadi buat apa bikin mushola. Nah biasanya kan (dimana-mana) yang namanya musholla kantor akan menjadi tempat pelarian paling nyaman untuk tidur-tiduran siang meluruskan pinggang meski sudah ada larangan tidur di situ.

Jadi di kantor saya tidur beralaskan kardus bekas, potongan karpet sisa atau bahkan kertas koran bekas!!!!

Alhamdulillahnya saya dianugerahi kemampuan untuk tidur dimana saja (mengingat saya pernah ketiduran di kamar mandi) jadi tidur di kantor tetap ada nikmat-nikmatnya buat saya.

Dimana tho nikmatnya mas?

daripada ketiduran dengan posisi duduk, tidur di atas koran tentunya akan lebih nikmat. Daripada insomnia kayak hobinya bini saya, tidur di atas kursi lipat yang disusun sedemikian rupa tentunya bagaikan mukjizat!

Omong-omong soal tidur dengan kursi lipat, postur tinggi tubuh saya ternyata bisa muat tidur dengan nyaman hanya dengan dua buah kursi lipat!! Sebuah prestasi membanggakan? Tidak juga, namun saya seringnya suka senyum-senyum geli memikirkan betapa baiknya Gusti Allah sama saya….

Bagaimana tidur sampeyan tadi malam?

(lagi) Kekerasan di IPDN

Gak gumun. Gak ngungun. Serius, kok saya gak kaget sama sekali ketika kemarin mendengar berita tentang penganiayaan yang dilakukan oleh para praja tingkat III IPDN terhadap seorang tukang ojek sampai akhirnya korban meninggal dunia. Ya, sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan gratis dari pemerintah di sini, saya kadung sebel! gaya sok-jagoan begini kan gak ada faedahnya sama sekali. Oke lah kalo mo sok jago di dalam kandang, ndak papa kok sok senior! Sok senior disini ya dengan cara lebih sering nraktir makan, bagi-bagi rokok, atau ndobos tentang masa depan di dunia kerja nanti. Lha nek sok jagoannya dengan cara adigang adigung adiguna ya saya ndak ikut-ikutan!



Di dalam kampus saja yang toh nantinya akan menjadi lulusan dengan pangkat dan golongan yang sama (hanya beda masa kerja jika menyangkut junior-senior) sudah begitu parahnya, lha bagaimana nanti di dunia kerja? Bagaimana juga nanti dalam melayani masyarakat?

Ada kenalan saya (yang saya benci) begitu ngantor di sebuah instansi pemda kampung saya kok ya jadi aneh. Tetangga saya yang sekantor sama dia sering cerita bagaimana soknya teman saya itu terhadap pegawai lain yang pangkat dan golongan serta tingkat pendidikannya lebih rendah darinya. Sedang kepada yang lebih tinggi malah over dalam hal nunduk-nunduk! Gombal Mukiyo tenan!!

Hidup kan cuman mampir ngombe tho? Mbok mari minum dari cawan kebijaksanaan sebanyak-banyaknya, bukan malah mendhem minum anggur sampai mabuk!

Ndak puas jadi jago kandang lalu mencoba melebarkan sayap ke luar kampus? Apapun alasannya kekerasan harus ditanggapi dengan bijak. Apapun penyebabnya, toh harus tetap pakai akal dan hati. Keroyokan tentunya bukan hal yang keren di mata perempuan, adik-adik semua!!!

Saya heran, kegiatan kampusnya ngapain aja sih? Jatah makanannya apa saja sih? Kok emosi tinggi semua???

“Mas, kalo sampeyan tiba-tiba didatangi orang gak dikenal yang minta rokok bagaimana, mas?”
“Ya bilang kalo saya gak merokok!!”
“Lha kalo mkaksa minta dibeliin rokok?”
“Ya belikan saja…”
“Kok gitu?”
“Lha iya tho?? cuman rokok lho… bukan minta celurit atau minta dibeliin berlian kan?”

Sumber: Media Endonesia

Gambar diambil dari sini.

Asmuni Wafat, (bukan) Hil Yang Mustahal!

Satu lagi pelawak Endonesia berpulang. Asmuni yang tenar dengan kumis bak Charlie Chaplin namun selalu tampil berblangkon dikabarkan telah meninggal hari sabtu, 21 Juli 2007 di kediamannya di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur pada usia 76 tahun.

Rencananya jenasah anggota senior kelompok lawak Srimulat ini akan di makamkan di Jombang, Jawa Timur yang merupakan tempat kelahirannya pada hari minggu ini.

Sebelumnya Asmuni sempat di rawat di RS Rekso Waluyo Mojokerto karena sakit jantung, komplikasi ginjal dan asam urat yang dideritanya namun lalu dirawat di rumah karena kangen dengan anak-cucunya.



Buat saya yang hidup “melek” di tahun 90-an tentunya hanya mengenal Asmuni secara sekilas. Lawakan Asmuni yang saya saksikan mungkin hanya lewat siaran TVRI. Dari situlah saya kenal istilah Asmuni, Asal Muni (Muni: Bunyi) atau diplesetkan menjadi Asu Muni (Asu: Anjing).

Dan karena masa-masa saya menyaksikan Asmuni di usianya yang sudah sepuh tentunya lakon-lakon yang diperankan selalu sebagai orang tua yang bijak namun sesekali konyol. Berbeda dengan pelawak Jojon yang sampai tua selalu kebagian peran yang menjadi bahan ejekan pemeran lainnya.

Entah benar atau tidak, saya dan teman saya (yang saya hubungi via SMS) sepakat bahwa dari Asmuni-lah kami mengenal istilah: Hil Yang Mustahal!

Selamat Jalan, Mbah Asmuni…..

Bacaan Lain:

Korelasi antara Jenggot dengan Pemberontak

Saya nyadar bahwa belakangan berat badan saya naik lagi dan membuat tubuh saya makin keliatan lebar. Bukan satu-dua yang nyindir saya, tapi di kantor saya bahkan beberapa Wajib Pajak juga ikut-ikutan menyindir kondisi saya saat ini.

Saya ini dari dulu terkenal sekali malas sisiran. Untuk hal satu ini saya pake prinsip WYSITMWIWUIWYGITO !!!!! Beda dengan WYSIWYG, WYSITMWIWUIWYGITO mempunyai kepanjangan: What You See In The Morning When I Wake Up Is What You Get In The Office !!!!




Makanya sebulan sekali saat bertandang ke tukang pangkas rambut langganan saya, saya tinggal order:

“Uda, biasa! Potong biar saya ndak usah sisiran!!!”

Apa sih efeknya cukur pendek bagi saya? Dengan model rambut ala kadarnya begitu, maka saya akan makin keliatan tembem. Seolah-olah di jidat saya akan terpampang tulisan: “GEMUK” dengan sangat jelasnya. Beberapa orang yang biasa memanggil saya bangpay bahkan ada yang mengganti panggilan saya menjadi: “BANGPAO” yang tentu saja plesetan dari Bakpao.

Nah ceritanya beberapa minggu lalu pas potong rambut bulanan, Tukang Cukur Langganan saya yang asli Solok, Sumbar itu tumben-tumbennya menawarkan agar saya dipotong saja jenggotnya. Biar lebih rapi, katanya.

Saya nurut saja.

Setelah selesai, barulah penyesalan datang. Apa pasal?

Gara-gara ndak punya jenggot, saya makin keliatan gemuk! Ya, jenggot yang selama ini menutupi lemak di dagu saya, dus menandai dagu saya akan keliatan aneh tanpa jenggot. Ternyata dagu saya hampir-hampir tak kentara tanpa jenggot. Whelhadalah…

Sebenarnya niat memotong habis jenggot saya sudah ada sejak lama. Hal ini dikarenakan, seringnya baik rekan-rekan saya maupun saya sendiri mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakkan dan kurang sopan saat hendak memasuki bandar udara (di Endonesia) dengan adanya jenggot di dagu kami.

Kebayang kan misalnya pas kita udah terburu-buru mau check-in karena pesawat hampir take off eh kok malah mendapat pemeriksaan berlebihan, beda dengan penumpang lainnya. Lha kalo yang meriksa badan itu cewek cakep sih gak papa, lha kalo apes? Dapatnya laki-laki yang sok penting dan sok tegas…. galaknya itu lho! Padahal sama-sama makan nasi….

Kembali ke jenggot.

Oke. Tentunya saya berlebihan jika saya sampai gusar ngadepin urusan jenggot ini. ledekan temen sekantor? Okelah masih bisa ditolerir. Namun kemarin pas hari jum’at eh kok ya ada Wajib Pajak yang nyeletuk:

“Wah… cukur jenggot ya, pak??? Jadi keliatan Gemuk!”

Enough, i said! This jenggot matters kill me! Mulai saat ini demi kemaslahatan bersama, saya akan numbuhin jenggot saya meski cuman seadanya dan keliatan pating cringih!

Seorang teman menasehati: “makanya, biar dagumu gak gemuk, mbok kalo disuruh bos itu nurut dan ngangguk-angguk terus tho… jangan ngeyel!! Nanti kan dagumu bisa rata! Liat tuh… pegawai yang ‘berani’ sama atasan kan dagunya tebel semua… ayo latihan ngangguk dan nunduk!! Huahahahaha”.

By the way, kalo bulu ketek juga dicukur gundul apa bakal menimbulkan efek visual yang nampak lebih endut?

Foto: diri sendiri, diambil menggunakan kamera ponsel Nokia 6600, seminggu setengah setelah dicukur.