Adaptasi

Mendadak bak belak-beloknya bajaj yang artinya tan kena kinira, ujug-ujug bin tiba-tiba Juragan saya di kantor mbahas pewayangan dan filosofi jawa. Aneh, karena beliau itu bukan priyayi jawa. Priyayi tapi bukan priyayi jawa.

Di forum tersebut beliau yang priyayi van toraja itu mbahas mulai dari werkudara, arimbi, wahyu cakraningrat, sampai filosofi jawa dengan detil meski dengan pengucapan dialek jawa yang kaku dan terpatah-patah. Saya dan bala kurawa lainnya tentu saja keplok sekeplok-keploknya.

Nonton orang non jawa ngomong jawa dengan terseok-seok itu bisa jadi semacam pertunjukan yang unik, tapi akan menyisakan kekaguman di belakangnya karena butuh usaha yang bukan sembarang untuk melakukannya.

Juragan saya, Mister No itu juga menerangkan soal adaptasi, soal bagaimana beliau sudah nunut ngiyup hidup puluhan tahun di Jawa akan tetapi belum juga bisa ngomong jawa. Biar begitu, pengetahuannya akan filosofi jawa sangat mengagumkan dan bisa diadu dengan para kaum jawa bajakan, seperti saya misalnya.

Ada yang bilang yang dilakukan beliau itu namanya adaptasi. Dimana beliau membengkokkan sesuatu dari kelazimannya agar bisa laras sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Melakukan sesuatu memang selalu butuh yang namanya adaptasi, butuh ada yang dibengkak-bengkokkan, sepanjang mbengkoknya dan kebangeten dan ndak mbentur aturan dan dilakukan dengan itikad baik, menurut saya sih itu hal yang jamak dilakukan oleh kira para manusia ini.

YANG LURUS BISA PATAH JIKA TIDAK DILARASKAN.

Maksud saya itu contohnya begini, keseharian kita kan berbusana, nah suatu saat ketika hari terasa begitu terik sedangkan kipas angin tak mampu mengusir penat, boleh-boleh saja kita mbengkok dengan buka baju dengan ngliga alias telanjang dada. Sepanjang yang saya buka itu baju saya sendiri dan saya buka baju di rumah saya atau di tempat yang privasi, bukan di kantor kabupaten!

Itu adaptasi.

Entah bagaimana ceritanya, ada kawan saya yang menganggap adaptasi adalah suatu cerminan sikap seseorang yang tidak punya jati diri dan keteguhan. Dianggapnya mencla-mencle dan berubah-ubah.

Sayangnya saya telanjur memproklamirkan diri sebagai orang yang welcome dengan pendapat orang lain, jadi terserah beliau saja mau bicara apa. Diamnya saya bukan berarti setuju, hanya saja debat kusir itu buang waktu dan tenaga.

Sistem politik Indonesia, konon bukan liberal maupun komunis. Konon bangsa kita mengambil jalan tengah. Mana mana, Jo!, kata orang Manado. Tapi kayaknya kawan saya tadi tidak pernah protes soal itu.

Ketika hujan, saya yakin dia juga berteduh. Ketika sumuk, saya yakin dia suka mbediding alias ngliga, persis seperti saya.

Bukankah sejatinya beliau juga beradaptasi? Buat yang mengimani teori evolusi, adaptasi jelas jadi salah satu rukun imannya, tidak bisa tidak. Tapi ya itu tadi, lain kepala lain isinya. Dan saya memang sedang tidak berniat untuk terseret pada debat kusir dengan kaan saya itu. Saya manthuk-manthuk dan mulai garuk-garuk kepala yang tak gatal. kepala saya tentu saja.

Sesungguhnya manthuk-manthuk dan garuk-garuk kepala yang tak gatal tadi adalah salah satu bentuk adaptasi juga. Karena tindakan itu dirasa lebih masuk akal dan bisa diterima khalayak ramai dibanding jika saya mengambil respon dengan garuk-garuk pantat yang tak gatal. Baik pantat saya apalagi yang bukan pantat saya.

Terselip di benak saya, dengan begitu banyaknya penyesuaian diri yang dilakukan kawan saya itu, saya jadi mikir, jangan-jangan dalam hati beliau, beliau merasa sebagai orang yang paling mencla-mencle di dunia..

Ah mbuh!

One thought on “Adaptasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *