Sampingan

Hari ini saya dengan diantar Bahri, jongos kantor serba bisa, dinas luar ke Banjarnegara. Sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang tengah-tengahnya dilewati sungai Serayu, sungai yang jadi identitas di daerah ngapak ini.

Seperti biasa ketika disupiri Bahri, harus rela tidak tidur dan menemani ngobrol. Ngobrol dengan tema apa saja, dengan tujuan agar dia tidak ngantuk. Jongos kesayangan saya ini memang tidak tahan ngantuk dan lapar, sebelas dua belas dengan saya sebenarnya. Berhubung AC mobil dinyalakan demi menjaga agar tubuh bongsor saya tidak banjir keringat, Bahri tidak bisa merokok. Sedangkan ngemil, jarang dilakukannya kala nyetir.

Jadilah ngobrol menjadi satu-satunya trik agar supir saya itu tidak ngantuk dan tertidur. Blaik, kalo itu terjadi.

“Ha itu temenmu udah lancar nyetirnya? Kemaren sebelum lebaran kan minta ijin sinau belajar nyetir pake mobil kantor..”

“Oh, si Biang ya, pak? Kayaknya sih sudah… Tapi nggak tau juga.. Soalnya kan yang ngajari itu si Ratno, pak.. Saya ya gak ngerti!”

“Kan makin banyak yang bisa disuruh nyetir di kantor kan ya makin bagus… Wong ndak semua pegawe bisa dan mau nyetir itu kalo kemana-mana..”

“Iya, pak…”

Ya, di kantor saya itu seringnya kalo dinas luar akan dilakukan beramai-ramai digabung jadi dalam satu mobil. Pertama, terbatasnya jumlah kendaraan kantor. Kedua, ya asyik saja dinas luar bareng-bareng, toh kalo dinas sendirian malah ngelamun di jalan. Dan lucunya untuk urusan nyetir mobil seringkali pada wegah alias ndak mau.

Nyetir, apalagi nyetiri mobil yang isinya teman-teman kantor adalah sebuah siksaan berat tersendiri. Tiap gerak-gerik, tiap manuver yang kita lakukan akan dikritik dengan sadis, dicela bila perlu… Pokoknya tanpa ampun.

Jadi, mau nyetir pelan ataupun ngebut akan sama-sama salah di mata teman-teman gemblung saya itu. Kalo ngebut bakal dimaki-maki, kalo nyetir pelan bakal dicela sebagai supir keraton.

Tentu saja celaan dan kritik teman-teman itu hanya humor belaka. Bukankah humor yang paling mudah setelah memukul-mukulkan sesuatu ke orang lain itu adalah humor dengan mencela??

Humor inilah yang menuntut kedewasaan. Ketika menjadi obyek, kita harus ingat bahwa segala celaan itu hanya berupa celaan, tidak lebih. Sedang jika kita menjadi subyek, kita harus pintar-pintar memilih bahan dan mencari cara terbaik agar yang menjadi obyek celaan kita tadi tidak lantas tersinggung.

Obyek harus ikut tertawa bersama subyeknya. Kata orang bule itu “to laugh with them, not to laugh at them”. Jelas humor ini butuh jam terbang yang tinggi.

“Tapi pak… Sekarang buat SIM di Purbalingga itu susah!”, tiba-tiba Bahri membuyarkan lamunan saya.

“Susahnya gimana tho?”

“Pokoknya susah, pak. Harus ujian tulis.. Ujian praktek juga.. Ah pokoknya repot, pak!”

“Lho sik.. sik.. Bukanya itu malah bagus, itu kan artinya sesuai aturan. Ha memang begitu kan cara pembuatan SIM yang bener. Ha soal repot itu kan karena kita terbiasa jalan pintas dan nyari gampangnya demi ngindari repot. Sedang repot atau tidaknya kita itu kembali lagi ke pola pikir kita.”

“Tapi anu koh, pak… Banyak yang gak lulus… Wong ujian SIM C yang buat motor saja bisa dua tiga kali!”, seloroh Bahri.

“Iya sih… Kemarin dulu ketemu supir angkot yang udah jadi supir selama 15 tahun eh pas ikut ujian praktek juga gak lulus lho..”

“Lha itu.. Pokoknya ngerepoti, mau nembak juga gak bisa. Mungkin bisa sih tapi susah…”

“Gini, ambil sisi positifnya aja.. Negara kita ini kan udah akut kebangeten dalam membiarkan tindakan yang melanggar hukum. Nah, dengan sistem pembuatan SIM yang diperbaiki seperti kayak sekarang ini semacam latihan yang bagus agar kita terbiasa on the right track!

Bahri ngangguk-angguk lalu tangan kanannya mulai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Gerak-gerik semacam itu berdasarkan pengalaman empiris setahun saya kenal Bahri adalah pertanda bahwa dia itu tidak mudeng tapi wegah alias males untuk bertanya lebih lanjut karena takut jawaban yang nantinya dia terima akan semangkin tidak memudengkan dia!

Ketika mobil yang kami naiki mulai meninggalkan Klampok dan masuk ke wilayah Mandiraja, aspal mulai halus sehingga perjalanan mulai lancar, Bahri bisa lebih dalam nginjak pedal gas. Saya menambah volume suara CD player yang memutar lagu-lagu di album ‘Metamorphosis’ milik ADA band.

“Tapi pak.. Kasihan polisi-polisinya.. Sekarang razia SIM dan STNK katanya harus ada izin resmi dari Polda, jadi gak ada yang liar… Trus bikin SIM juga gak bisa lewat nembak… Lalu polisi-polisi itu sampingannya darimana, pak?”

Saya, karena bingung harus menjawab apa, memilih untuk pura-pura tertidur.

One thought on “Sampingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *