Kantin

Bertahun-tahun saya mengabdikan diri buat negeri ini (Ayak!), baru kali ini di kantor ke lima saya mendapati kantor yang ada kantinnya. Kantin kantor yang lokasinya tentu saja di dalam komplek kantor dengan pelanggan utama para penghuni kantor. Ada sih satu atau dua orang umum yang nyasar ikut mampir ke kantin kantor saya baik untuk ngganjel perut dengan makan atau sekedar minum kopi.

Kantin kantor itu saya berupa bangunan terpisah dari gedung utama, mepet pagar luar kantor berdinding perpaduan tembok (pagar) dan anyaman bambu dengan atap seng. Sederhana.

Dikelola oleh keluarga salah satu karyawan kantor, kantin ini beroperasi layaknya kantor itu sendiri. Hanya saja tutup lebih gasik sebelum para pegawai absen sore karena toh kalo mepet sore tak ada juga yang ke kantin dan biasanya jualan sudah habis.

Dengan sepuluh jam lebih setiap harinya saya berada di kantor, saya ketemu dua waktu makan. Sarapan dan makan siang. Sarapan pagi jarang saya lakoni di rumah karena istri saya juga sama seperti saya, harus siap-siap ngantor, tak sempat untuk masak.

Sarapan itu seringnya akan terasa nikmat-nikmat saja, apapun menunya. Mungkin karena kondisi masih segar dan kekarepan kita belum neko-neko. Walhasil menu apapun yang disuguhkan ibu kantin di pagi hari biasanya begitu saja disantap dengan penuh gusto oleh para pelanggannya.

Selain nasi, sebagai makanan wajib manusia Indonesia, terdapat tiga atau empat jenis lauk berupa sayur dan sejenisnya, ditambah lauk berupa telur dadar, rempela ati goreng atau ikan goreng serta goreng-gorengan tahu dan tempe, adalah menu yang biasanya rutin tersedia kala pagi.

Karena semua makanan ini dimasak secara on-site di kantin, bukan dimasak di rumah sang pengurus kantin, maka bisa dipastikan menu-menu yang ada adalah menu yang proses memasaknya sederhana, mudah dan cepat.

Bagi mereka yang wegah makan nasi di pagi hari, tersedia juga jajanan pasar semisal cenil, meniran (kalau juragan saya, Mr. No yang orang Sulawesi itu bilang, buras) dan bermacam gorengan serta pisang.

Tak banyak macamnya, tapi cukuplah memenuhi keinginan para pelanggan.

Makan siang lah yang agak berbeda dengan proses sarapan. Makan siang biasanya dibarengi dengan kondisi lelah karena bekerja, perasaan ingin segera pulang dan musuh utama berupa rasa kantuk yang secara jamak menyerang di siang hari.

Dengan kondisi seperti itu entah kenapa, makan akan menjadi suatu proses yang rumit. Rumit dalam hal memilih menu. Menu di kantin yang tak banyak pilihan akan terasa sangat tidak menggugah selera. Bukan lantaran tidak enak, tapi mungkin karena keadaan, kita jadi neko-neko soal klangenan makan siang kita.

Capek, ngantuk dan pingin cepat pulang akan wajar membikin kita ingin makan yang enak. Tak hanya enak, selain enak kita ingin yang lain daripada yang lain. Beda dari biasanya.

Sebenarnya warung makan itu dimana-mana ya sama saja. Menu yang dimasak itu ya melulu itu-itu saja. Terasa berbeda dan banyak pilihan jika kita mau repot untuk menggilir warung-warung yang berbeda tiap kali kita makan.

Makanya saya kurang setuju kalau ada kawan yang ogah makan siang di kantin dengan alasan menu yang disediakan itu-itu terus. Wong kentaki saja jualanannya begitu terus.

Sedangkan terbatasnya jenis menu di kantin itu kan suatu hal yang lumrah. Suatu keniscayaan belaka mengingat pelanggan atau konsumennya sangat terbatas hanya pada para penghuni kantor. Jadi secara teori ekonomi, baik makro maupun mikro, terbatasnya jumlah pilihan menu di kantin itu sudah tepat. Halah.

Kami selalu punya pilihan untuk makan di luar kompleks kantor, karena memang disediakan waktu makan siang yang cukup longgar. Kami juga bisa membawa bekal dari rumah. Atau bisa langganan katering.

Tapi kami (baca: saya) terlalu malas untuk itu. Jadilah, meski menggerutu dan keliatan gontai malas-malasan, ujung-ujungnya saya akan makan siang dengan lahap juga di kantin.

Saya harus banyak belajar dari Bahri, jongos serba bisa di kantor. Dalam beberapa kesempatan, kala saya tengah kebingungan memutuskan apakah jadi mau makan di kantin apa enggak dan bingung memutuskan untuk mau makan apa, tiba-tiba Bahri muncul di kantin, untuk kemudian mengambil piring, menciduk nasi, menyendok sayur dan mengambil gorengan tempe mendoan atau tahu lalu menyantapnya dengan penuh semangat (baca: syukur).

Saya tahu, makan itu kontekstual dan penuh nuansa, tapi saya sering mbatin:

Barakallah kowe, Bahri!!!”

2 thoughts on “Kantin

  1. Makanya saya kurang setuju kalau ada kawan yang ogah makan siang di kantin dengan alasan menu yang disediakan itu-itu terus. Wong kentaki saja jualanannya begitu terus.
    ============================================================================
    supper sekali 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *