Tukar Kawruh

Pagi ini dimulai seperti biasa, setelah nyolokin jari ke mesin absen sidik jari, saya nyruput teh yang sudah disediakan Mas Tegar, OB kantor di lantai dua. Teh kali ini pas. Sesuai dengan syar’i di dunia minum teh. Nasgitel, panas legi tur kenthel.

Setelah itu saya bersama kawan lainnya menuju ke lantai tiga dimana terdapat aula di sana. Selama limabelas sampai tigapuluh menit ke depan, hadirin akan disuguhi sajian berupa materi apa saja yang disampaikan oleh petugas yang telah ditunjuk sebelumnya.

Materi yang disampaikan memang apa saja, asal masih ada hubungannya dengan pekerjaan. Berhubung pembicaranya bisa siapa saja, maka tema yang dibicarakan tergantung dari si pembicara, tidak harus menyesuaikan dengan pendengarnya.

Makanya acara ini dinamai ‘Tukar Kawruh’ yang mungkin jika ada di belahan dunia lain akan diberi nama ‘Exchange of Knowledge’. Tukar itu artinya tidak searah melainkan dua arah dan ada yang ditukarkan di sana, tentu hal yang baik-baik saja.

Ketika pembicara yang kebetulan tidak micara ataupun wawasannya terbatas dengan kemampuan di bawah rata-rata pun tetap ada yang namanya proses tukar-menukar disana. Dia mendapat pengalaman untuk belajar berbicara, sedang hadirin belajar untuk mendengar dengan penuh hormat, sesepele apapun yang disampaikan.

Lain lagi jika acara ini dinamai ‘Ngangsu Kawruh’, maka yang hadir di sana adalah mereka yang merasa butuh sesuatu yang ditawarkan oleh pembicara. Sang pembicara posisinya superior, baik dari sisi kemampuan ataupun kedudukan. Ngangsu Kawruh itu seolah meneguhkan hegemoni kekuasaan dari sang pembicara. Terbalik dengan tukar kawruh.

Bisa saja yang disampaikan dalam tukar kawruh itu hal yang jamak diketahui, atau sesuatu yang sangat sederhana, tapi saya bisa belajar untuk menghargai orang dengan segala keterbatasannya. Dan itu yang saya belum bisa. Namanya ego akan selalu ingin nonjolin diri dan dominan. Jadi ketika menjumpai sesuatu yang kualitasnya sudah kita lampaui, kita (baca: saya) akan cenderung menyepelekannya.

Menganggap sesuatu sebagai hal yang sepele adalah lawan kata dari penghormatan itu sendiri. Tidak hormat, kurang ajar.

Dan ketika yang disampaikan itu terlalu ndakik keduwuren sehingga otak saya tidak mampu menggapainya, saya cenderung untuk tidak mempedulikan apapun yang disampaikan karena merasa ndak bakal sanggup untuk mengerti. Akui saja kalau saya ini munafik, setuju bahwa saya harus terus menerus belajar, tapi ogah melaksanakannya.

Jangankan belajar hal yang baru, menerima hal yang baru saja saya selalu kesulitan. Semua pasti setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa yang namanya belajar itu tidak akan pernah selesai, berbeda dengan sekolah, ada time limit-nya.

Belajar konon bahkan dimulai sejak mrocot lahir sampai jasad wadag kita dipendem jero-jero di dalam tanah. Kita akan bersifat resisten ketika berjumpa hal baru, masih untung kalau hal baru tersebut adalah suatu keniscayaan atau sesuatu yang alamiah terjadi pada kita, sehingga mau tidak mau, biarpun menggerutu kita harus ikut berubah (baca: menerima hal baru).

Belajar, baik formil maupun non formil itu konon sama pentingnya. Seiring dan sejalan. Bahu membahu. Tapi bukankah kita juga masih belepotan menerjemahkan yang mana formil dan mana yang non formil? Sehingga kita sering menganggap sesuatu yang non-formil akan berlainan arah dengan yang formil.

“Bisa nggak acara kita yang formil ini dibikin agar gak formil-formil banget gitu lho?”, sering saya merasa mempertanyakan hal yang seperti itu, tanpa sadar bahwa ketika meminta uang seribu saya tak pernah menambahi dengan:

“Bisa ndak aku pinjem mobil tapi yang gak terlalu mobil deh?”.

Makanya saya kagum dengan pencetus acara Tukar Kawruh ini. Beliau memaksa kami yang bento-bento goblok ini untuk belajar dan mengajari. Beliau rela untuk dibenci oleh kami yang merasa terpaksa hampir setiap hari untuk belajar. Karena walaupun kami percaya bahwa menuntut ilmu itu tan hana kendate, dan kami juga mengajari anak-anak kami untuk belajar tanpa pernah berhenti, tapi kami bakal nggresula, mengeluh ketika harus dipaksa belajar.

One thought on “Tukar Kawruh

Leave a Reply

Your email address will not be published.