Respon

Sebagai orang yang memiliki akses internet lebih, wajar ketika beberapa kawan dan saudara menanyakan apakah saya sudah menonton film “Innocence of Muslims” atau belum. Dan kalau sudah, apakah saya bisa membagikan film tersebut kepada mereka.

Fim tersebut memang aslinya dari situs Youtube. Dan belakangan Mas Tifatul memblokir tayangan film tersebut. Makanya banyak yang blingsatan mencari cara agar bisa mendapatkan film tersebut. Banyak yang protes dengan kebijakan pemblokiran film berdurasi kira-kira 14 menit itu. Tapi kebanyakan yang protes memang mereka yang telanjur apatis dengan kebijakan-kebijakan Mas Tifatul selama ini.

“Paijo, kamu dah nonton film yang lagi rame dibicarakan itu belum?”, tanya Bejo, kawan saya.

“Filmnya siapa? Ariel – Luna?”, jawab saya membelokkan arah.

“Wooo.. Kalo itu basi. Wong Ariel nya aja wis bebas! Otakmu isinya bokep melulu sih. Itu, film yang bikin umat muslim bersatu seluruh dunia, marah-marah dan ngamuk karena Nabi Muhammad dihina..”.

“Oh, Innocence of Muslims? Udah. Lalu kenapa?”

“Bagi donk…”

“Buat apa??”

“Katanya kan film itu menghina Nabi, mengejek Islam, memfitnah kita umat muslim di seluruh dunia….”

“Lha itu udah tau isi filmnya… Kenapa kudu nonton?”

Bagai ngengat yang meski sudah tahu bakal mati terpanggang tapi tetap nyamperin sang api, banyak muslim yang berbondong-bondong ingin menyaksikan film provokatif tersebut, padahal mereka sudah tahu efek sampingnya. Yaitu merasa terhina, merasa dilecehkan dan tentu saja kemarahan yang teramat sangat.

Kata orang-orang kulon sih: “curiosity kills cat”, rasa penasaran bisa mematikan. Atau memang banyak dari kita ini mengidap masokisme akut? Sehingga sudah tahu bakal sakit masih mau saja membuka kesempatan itu?

Film Innocence of Muslims kan bukan film pertama yang menyudutkan Islam. Dan bukan kali pertama Islam diserang.

Film propaganda bikinan Sam Bacile itu jelas film propaganda yang jelas-jelas dibuat untuk mengadu domba. Dengan tema yang menjelek-jelekkan Islam, sang sutradara lalu mengklaim bahwa dana pembuatan filmnya disokong oleh orang-orang Yahudi-Amerika. Ini kan racikan adonan standar untuk menu adu domba. Dimana tema negatif soal suatu agama dihubung-hubungkan dengan agama lain yang selama ini secara empiris sering bertikai.

Efektif? Rupanya iya.

Sebelum umat muslim marah dan ngamuk-ngamuk hingga jatuh korban, film yang diunggah di situs Youtube ini miskin penonton. Film ini baru mendapatkan perhatian lebih tatkala stasiun televisi Mesir “Al-Nash TV” menayangkannya.

Bagai efek domino, unjuk rasa dan aksi protes menyebar ke seantero jagad. J Christopher Stevens dan 3 staf kedubes AS di Benghazi, Libya yang pertama-tama menjadi korban.

Padahal kalo dipikir-pikir, film ini kan menyampaikan bahwa umat muslim itu bodoh, emosional dan bertemperamen tinggi. Sedang banyak dari aksi protes yang dilakukan dan diulang-ulang di media massa justru makin menguatkan apa yang disampaikan film itu sebagai sebuah relita dan kebenaran.

Film ini mengandung racun luar biasa dalam menyebarkan kebencian, tapi penyebarannya justru dilakukan oleh mereka yang menjadi target racun. Film itu disebar-sebarkan, dibahas meski bias tanpa sedikitpun mencoba mencari cara terbaik bagaimana cara merespon film tersebut.

Di tengah gegap gempitanya kampanye bahwa muslim bukan teroris dan anti kekerasan serta menolak gebyah-uyah alias stereotyping soal semua muslim itu teroris, di sisi lain justru kita sibuk memusuhi semua orang amerika dan dunia barat hanya karena ulah Sam Bacile seorang.

Kelompok yang semula netral dan berbaik sangka dengan dunia Islam lah yang saya kuatirkan malah jadi bingung menyaksikan ulah sebagian dari muslim yang anarkis yang ditayangkan berulang-ulang oleh media massa atau oleh para pengguna situs jejaring sosial.

Banyak dari kita tutup mata dan menolak untuk mendalami kejadian demi kejadian yang menyangkut film ini karena sibuk marah sekaligus menyebarkan kemarahan di mana-mana. Atas nama cinta Rasul, ia menyebarkan kebencian dan amarah, meski jelas jelas dua hal tersebut bukan hal yang dicintai Rasul.

Atas nama membela kesucian agama banyak yang tergopoh-gopoh ngamuk di sana sini, padahal tabayyun alias cek-dan-ricek adalah hal yang dianjurkan dalam agama. Dan yang ngamuk-ngamuk tanpa sekalipun nonton filmnya dan taunya cuman dicritani orang lain itu kurang kerjaan atau bagaimana?

Di dunia yang terdiri dari milyaran kepala, yakinlah ada banyak orang yang tak menganggap agama sebagai hal yang serius bahkan menjadikannya olok-olok. Banyak juga yang masih menganggap agama dan Tuhan sebagai sesuatu yang diperlukan tapi tidak keberatan ketika agamanya dan segala tetek bengeknya dijadikan bahan olok-olok.

Akan halnya Sam Bacile, saya tak tahu dia termasuk bagian yang mana. Tapi harusnya kita berpikir, kita marah karena agama dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya masih menjadi sesuatu yang penting. Akan tetapi jangan-jangan yang kita hadapi adalah mereka yang tidak menganggap agama sebagai hal yang serius. Agama manapun itu.

Adalah dungu jika kita mengharapkan orang yang tidak mempunyai kecintaan akan perangko dan benda pos lainnya, untuk memperlakukan perangko seperti yang dilakukan oleh filatelis.

Tuduhan bahwa kita bodoh, suka kekerasan dan temperamental sejatinya lebih mudah meresponnya, dibandingkan dengan tuduhan korupsi, misalnya. Kita cukup menunjukkan bahwa kita ini pintar, tak mudah dipancing, tidak melakukan kekerasan dan mencoba agar kepala kita tetap dingin.

Lain ketika dituduh korupsi, ketika kita marah hingga menggebrak-gebrak meja, misalnya. Kita akan dicap sebagai koruptor yang ketahuan belangnya.

“Hahahaha.. Ngamuk dia karena ketahuan belangnya!!”

Lalu ketika tuduhan korupsi direspon dengan diam, maka bisa jadi disambut dengan:

“Tuh kan, dia gak bisa membela diri karena memang beneran korupsi!”.

Terakhir, kembali ke anda. Terserah mau merespon bagaimana!

One thought on “Respon

  1. Sepakat bang, dengan respon negatif malah pembuatnya tertawa-tawa disana. Saya teringat, ketika muslim menguasai Andalusia, mereka menghindari menghukum mati orang-orang yang menghina Nabi, mereka tidak ingin menciptakan martir, juga menciptakan dendam. Bijak sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *