Kajen

Maafkan buat pembaca yang beretnis non Jawa. Saya memang boleh dibilang keterlaluan dalam nge-uber alles hal-hal yang berbau Jawa. Pokoknya sisa-sisa darah priyayi di tubuh saya akan selalu mengedepankan hal-hal yang berbau tradisional, terutama Jawa. Begitu nampaknya.

Tapi jangan salah, jikalau sampean mengenal saya secara personal, akan sering menjumpai saya juga akan dengan penuh gusto ngenyek dan ngece alias menghina hal-hal negatif yang ada sangkut pautnya dengan kebudayaan yang saya bangga-banggakan di satu sisi tadi. Meski bangga, sebisa mungkin saya belajar untuk tidak menutup mata jika memang ada borok-bobroknya.

Dan bukankah kalau mau mengece sesuatu itu kita harus terlebih dahulu mengetahui lebih dalam agar tidak waton njeplak atau asal bicara?

Ah, saya memang tidak bakat menjadi pencerita yang baik. Tiga paragraf sebelum ini sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang akan saya sampaikan. Sekedar pembuka yang kalau dipikir-pikir lagi kok ya tidak penting sama sekali. Lha wong di dunia nyata saya sangat males berbasa-basi kok ya pas nulis malah basa dan basi lho ya?

Kajen, dimana huruf ‘e’-nya dibaca seperti huruf ‘e’ yang ada pada kata ‘bebek’, berasal dari bahasa Jawa yang artinya dianggap, dihargai, dihormati atau diperlakukan sebagaimana pantasnya dalam artian yang positif.

Tadi siang, berhubung masih berstatus bujang musiman, bujang lokal atau istilah yang lebih saya sukai yaitu bujang geografis, saya memutuskan untuk jalan-jalan memacu sepeda motor saya yang bernama Ki Gogor Klawu.

Akhirnya saya mampir ke sebuah pameran buku yang diselenggarakan di halaman sebuah instansi plat merah. Berhubung saya belum pernah mampir-melipir ke sana, saya bingung pintu masuknya itu yang mana. Tidak ada tulisan apapun yang bisa memberi tahu kemana saya boleh masuk dan kemana saya tidak boleh masuk. Dengan percaya diri saya mengekor seseorang yang masuk ke area pameran buku tersebut. Ketika orang itu memarkir sepeda motornya, saya juga ikut.

Tiba-tiba saya dibentak oleh seorang bapak-bapak setengah baya (umurnya, bukan badannya) yang dari penampilan dan priwitan yang dibawanya bisa dipastikan bertugas sebagai tukang parkir.

Wooo… Jangan parkir di sini!!! Di sana…. Sembarangan…”

Saya yang kaget, reflek tengak-tengok memastikan kemana teriakan itu diarahkan. Saya atau mas-mas yang motornya tadi saya ikuti. Rupanya saya.

“Kamu ini sembarangan.. Bukan di sini parkirnya! Di sana itu! Masuk lewat pintu satunya..”

Sik tho, pak… Ha saya kan ndak tahu. Lagian ndak ditulisi, masuknya lewat mana, keluarnya dimana, markirnya dimana…”, ujar saya membela diri.

“Ha kalo apa-apa kudu ditulisi ya repot. Kamunya aja yang selonong-boy!!

Ha panjenengan itu piye tho? Wong kelon lan gelut-gelutan sama perempuan saja ada aturannya lho. Ditulis dimana boleh masuk, dimana yang tidak. Ha mosok pameran buku yang isinya jualan tulisan males nulis gituan, pak!”

Humor yang lekoh, alias menjurus ke hal-hal porno yang saya lakukan tadi sebenarnya murni gambling. Tujuannya sih agar mencairkan suasana, tapi kalau kebetulan respondennya dari kalangan yang kaku dan relijius, blaik! Cilaka saya.

Tapi rupanya sang bapak malah tertawa. Urat-urat di kepala dan leher yang sebelumnya spaneng, nampak terurai melemas, tanda emosi mereda. Wajahnya mulai nampak ramah, dan kemudian dia terbahak-bahak.

Saya sangat suka istilah spaneng, yang konon berasal dari bahasa Belanda ‘spanning’ dan kalau dalam bahasa Jerman itu ‘spannung’. Spaneng itu artinya tegang, dan aslinya berhubungan dengan istilah kelistrikan. Makanya spaneng itu sejatinya voltase listrik. Akan halnya istilah spaneng dipakai para orang tua kita untuk menggambarkan seseorang yang sedang marah itu sebenarnya pintar-pintarnya mereka belaka.

Yo wis mas… Sori… Mase pindah ke sana. Di sini tempatnya buat panitia. Iya, saya tahu harusnya ditulisi kalo di sini khusus buat panitia. Yo, mas yo?

Sembari memindahkan Ki Gogor Klawu, saya mikir bahwa meski awalnya ngotot dan emosional, tukang parkir tadi memiliki kebijaksanaan yang tak banyak dimiliki oleh para petinggi negeri ini. Kondisi dimana ketika dia mengatur apa yang menjadi kewajibannya lalu diberitahu bahwa tindakannya tidak berlandasan hukum, dia langsung mengurangi tegangan tapi tetap berusaha menuntaskan kewajibannya sebagai yang mbahureksa lokasi parkir itu.

Banyak kan para petinggi atau pejabat kelas kroco yang ketika tindakannya yang meski bertujuan baik tapi ketika diberitahu bahwa tindakannya tidak berlandasan hukum langsung triwikrama. Marah besar hingga tubuhnya seolah berubah menjadi raksasa seperti kisah Prabu Arjuna Sasrabahu ataupun hikayat Ibnu Shayyad.

Sesungguhnya sekecil apapun jabatan seseorang, yang diinginkan adalah dihargai dan dihormati serta didudukkan pada tempat yang sesuai. Tindakan saya yang nyelonong begitu saja jelas membuat gerah tukang parkir tadi. Untung argumen saya bisa beliau terima.

Soal banyaknya orang yang ketika diberitahu sesuatu atau diperintahkan untuk melakukan sesuatu seperti halnya saya disuruh memindahkan motor tadi, merespon dengan amarah yang lebih besar itu juga karena pihak yang diperintah juga butuh dihormati.

Pada akhirnya ketika pemerintah dan yang diperintah sama-sama memanusiakan antara satu dengan yang lain, akan muncul harmoni. Ini yang selalu kita lupa, kita suka terlena hingga mengedepankan emosi atas nama pangkat dan jabatan, senioritas serta pengakuan intelektualitas dalam argumentasi.

Belajar dari dari Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu-Langi atau yang lebih kita kenal dengan Dr. Sam Ratulangi dari Minahasa, Sulawesi Utara, beliau mengajarkan falsafah: Si Tou Timou Tumou Tou.

Manusia hidup untuk menghidupi (sesama) manusia.

2 thoughts on “Kajen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *