Lele

Jika saya boleh menciptakan sebuah istilah baru setelah carnivora, herbivora dan omnivora, niscaya saya akan mengusulkan ‘clariasovora‘. Berasal dari clarias yang merupakan nama latin genus ikan-ikan lele dari familia ‘clariidae’.

Clarias berasal dari kata Yunani kuno, ‘chlaros’ yang bermakna ‘(sangat) hidup’. Kenapa disebut dengan nama tersebut? Tak lain karena ikan jenis ini mempunyai kemampuan hidup yang cukup lama saat berada di luar air.

Bicara soal makan sebenarnya saya setali tiga uang dengan Bahri, jongos favorit saya di kantor yang berkali-kali nongol di tulisan saya. Kami mirip baik dari sisi selera maupun volume yang mampu kami tampung di dalam perut gentong kami. Bedanya, belakangan Bahri mulai sering terganggu kesehatannya jika sembarangan menelan makanan. Mulailah ia mengurangi makanan berkolesterol.

Ketika saya berkesempatan berkunjung ke kota Banjarnegara beberapa waktu silam, saya yang kala itu juga ditemani Prabu Pantun, bingung hendak memutuskan menu makan siang kami. Sebagai orang Jawa yang kental ewuh-pakewuh-nya, saya dan Prabu Pantun masing-masing saling berujar: “Terserah”, ketika hendak memutuskan menu makanan apa yang akan kami pilih.

Bahri juga berujar terserah seperti kami berdua, akan tetapi kata terserah yang Bahri ucapkan, beda konteksnya dengan yang keluar dari mulut saya maupun Prabu Pantun. Meski dunia moderen tidak mengenal kasta, sifat abdi dalem yang kental dari Bahri akan menyebabkan ucapan terserah yang diucapkan itu reflek tetapi benar dan tulus adanya.

Di tengah kebingungan saya dan Prabu Pantun, tiba-tiba Bahri berujar:

“Katanya sekarang ada Es Dawet yang dibuat dari daging ikan Lele, lho Pak!”

Ya, bagi orang kecil macam Bahri, biarpun amat teramat jarang mempunyai kesempatan untuk urun rembug tanpa ditanya, sesekali akan keluar dari kandang dan menyuarakan isi kepalanya. Hanya saja Bahri memang terkenal diplomatis, tidak mungkin dia langsung teriak: “Lele saja…”.

Bahri meliuk-liukkan kegiatan diplomatiknya dengan cara yang elok, bagai penari Bedhaya yang dengan anggun lengkap dengan pandengan atau tatapan mata yang percaya diri lalu disambung dengan pacak gulu yang meyakinkan.

Bahri membahas Dawet Ikan Lele. Saya dan Prabu Pantun langsung tanggap ing sasmita, paham dengan tanda-tanda bahwa Bahri ingin menyantap Ikan Lele. Begini-begini kami sudah dilatih agar bisa mendengar apa maunya rakyat. Akan tetapi lantaran satu dan dua hal, Prabu Pantun tidak suka menyantap jenis Ikan Lele.

Akhirnya demi kedamaian di bumi kami sepakat untuk makan siang dengan menu di salah satu franchise warung bebek goreng. Dengan alasan kesehatan, Bahri memesan daging ayam, bukan bebek. Meski saya meragukan hal tersebut. Bahri ini selain ngabdi di kantor saya, dia juga beternak bebek untuk diambil telur-telurnya. Bahkan Bahri ini konon baru saja diangkat menjadi semacam ketua gank-nya para peternak bebek di kampung tempat dia dan ratusan bebeknya hidup sederhana namun bahagia.

Jadi bisa saja alasan kenapa dia enggan menyantap daging bebek itu lantaran kasih sayangnya yang luar biasa terhadap kaum bebek.

Kembali ke soal Dawet Ikan Lele, saya memang pernah mendengarnya dari salah satu Paklik saya yang kebetulan menetap di Mandiraja. Akan tetapi, Paklik yang doyan guyon itu saya anggap bercanda saat matur bahwa ada orang yang bikin dawet dari olahan daging ikan lele.

Adalah Fedwi Anggi Indrayani, yang bertanggung jawab atas terciptanya dawet lele. Dia adalah alumnus dari Institut Pertanian mBogor. Perempuan asal Madukara, Banjarnegara ini berhasil memadukan dua jenis komoditas di daerahnya menjadi komoditas baru yang benar-benar baru.

Banjarnegara memang tenar akan dawetnya. Siapa yang tidak suka meneguk segarnya dawet khas Banjarnegara di tengah teriknya matahari siang bolong? Dan produksi ikan terutama lele juga cukup banyak di sana. Maka terpikirlah oleh beliau untuk menjadikan daging ikan lele sebagai bahan baku pembuatan dawet.

Saya jujur memang belum pernah mecicipinya. Kesempatan yang saya punya kemarin itu pupus demi menghormati Prabu Pantun yang tidak menjadikan Ikan Lele menjadi salah satu bahan makanan. Akan tetapi dari yang saya baca dan dengar, dawet lele ini rasanya enak, dan jelas tidak ada rasa amis khas ikan.

Semoga jika ada kesempatan lagi, saya diperkenankan untuk mencicipi dawet lele yang saat ini bisa ditemui di salah satu gerai UMKM kompleks Terminal Induk Banjarnegara dengan merek “Da Lele”.

Karena saya ini doyan sekali menyantap ikan lele. Tulisan saya kali ini pun saya buat setelah melicin-tandaskan dua porsi pecel lele di warung langganan saya. Pemilik warung sudah mafhum dengan kebiasaan dan porsi makan saya, sudah tidak ngungun lagi. Dan jujur saja, tiga malam terakhir secara berturut-turut, saya memilih pecel lele sebagai menu makan malam saya.

Saya memang menyukai rasa dan tekstur lembut daging ikan lele. Hanya saja selama ini saya hanya tahu tiga jenis cara mengolah ikan lele. Yaitu disajikan sebagai pecel lele, dimasak dengan saus pedas dan dimasak dengan kuah santan atau pecak. Itu saja.

Makanya, ada yang mau mengajak saya wisata kuliner ikan lele ke Banjarnegara?

One thought on “Lele

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *