Telik Sandi

Puluhan tahun silam, kamar tempat saya tidur dan beraktifitas bersama dua puluhan santri lain, pernah tiba-tiba penuh bisik-bisik dan desas-desus. Gedung yang kami tinggali terdiri dari tiga kamar dan satu kamar senior-senior kami yang ditunjuk menjadi pengasuh seluruh santri di tiga kamar di gedung tersebut.

Kami yang masih santri baru antara penasaran, bingung dan takut dengan kabar yang baru saja kami beredar dari mulut ke mulut. Konon, mulai hari itu diperlakukan peraturan ketat mengenai penggunaan bahasa dalam pergaulan sehari-hari, di luar jam pelajaran ilmu umum.

Pilihannya hanya dua, bahasa Inggris dan bahasa Arab. Meski tentu saja ada bonus bahasa isyarat. Pokoknya hanya dua bahasa itu yang boleh kami gunakan dalam pergaulan sehari-hari. Karena santri baru, bahasa arab kami tentulah nol besar. Sedang bahasa inggris, meski sudah kami dapatkan dari pendidikan formal sebelumnya, masih sangat terbatas, pathing cringih dan menyedihkan.

Tapi gong sudah ditabuh dan kami toh membutuhkan komunikasi, apapun caranya harus kami tempuh. Kalau diingat sebenarnya teramat lucu. Jadilah dari bibir-bibir kami muncul bahasa baru, campur aduk dari segi vocabulary maupun dialeknya. Maklum, kamar kami itu merupakan miniatur Indonesia yang sebenarnya, ada yang dari Padang, Banjarmasin bahkan yang dari Papua.

Peraturan yang dicanangkan tadi tentu bukan tanpa pengawasan. Meski tanpa diatur soal reward, punishment-nya cukup jelas. Siapapun yang melanggar akan mendapat hukuman berupa dilecut baik menggunakan kain sarung ataupun ditampar menggunakan pici. Para senior lah yang diberi wewenang untuk mengawasi dan menghukum.

Awalnya proses pencarian para tersangka pelanggar peraturan memang dilakukan oleh para senior, dan dengan hasil yang cukup massive. Selepas shalat maghrib, para pelanggar dipanggil dan membludak dikumpulkan di depan kantor bidang disiplin, tempat para senior pengasuh bertugas. Setelah didakwa dan terbukti bersalah, para santri yang melanggar akan menerima hukuman.

Tak cukup dilecut atau ditampar, mereka juga diberi tiga lembar kertas. Rupanya para terpidana itu lantas ditugaskan untuk mencari tiga pelanggar lain dengan tenggat waktu sebelum adzan maghrib keesokan harinya. Kertas itu berisi identitas sang mata-mata (terpidana), nama pelanggar yang ditemukan, jenis pelanggaran yaitu kata/ kalimat yang diucapkan (non inggris dan arab), tempat serta jam terjadinya pelanggaran.

Sistem ini jelas efektif, baik dari sisi penegakan disiplin berbahasa arab dan inggris, maupun dari sisi melecut para santri untuk lebih giat menghafal dan menggunakan kosa kata dalam bahasa arab dan inggris demi tidak terkena hukuman.

Para pelanggar yang telah menerima hukuman, secara instan namun legal mendadak menjadi mata-mata atau agen rahasia. Karena di tiap lembar kertas laporan harus dicantumkan nama si pelapor, tentu saja si pelapor tidak bisa asal menuliskan nama orang lain, alias harus nyata dan benar-benar terjadi. Mata-mata dadakan ini mendapat julukan ‘jasus’, berasal dari bahasa arab ‘jaasuus’ yang berarti mata-mata.

Peran jasus jelas meringankan tugas para pengasuh senior karena akan sangat susah bagi mereka pencari pelanggaran di tengah komunitas para juniornya, jika ada senior tentu para junior akan bersikap manis adanya, tak berani macam-macam.

Lalu bagaimana para santri lain memperlakukan jasus jika kebetulan ada di kamar mereka? Dengan pola pikir bahwa jabatan jasus bukan pilihan apalagi jenjang karier melainkan hukuman, kami sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan keberadaannya. Tentu kami menjadi lebih berhati-hati, jika ada jasus di sekitar kami, tapi sepanjang yang saya tahu, kami tak pernah menjauhi mereka.

Karena ada proses yang jelas dalam penegakan disiplin berbahasa ini, dan si terlapor pun mempunyai hak untuk membela diri jika laporan yang dibuat ternyata tidak benar. Di sisi lain, bisa berbicara bahasa asing itu memang kami sadari harus dibiasakan (baca: dipaksakan), dan ketika dilakukan, berada di komunitas yang berbahasa tidak lazim terasa sangat keren bagi jiwa-jiwa belia seperti kami.

Bicara soal mata-mata, tentunya kita tahu ada dua jenis, ada yang bersifat eksternal dimana dia melakukan pengamatan kepada pihak luar demi kepentingan organisasinya, dan ada juga yang bersifat internal, seperti jasus lughoh atau mata-mata bahasa tadi.

Nampaknya mata-mata eksternal lebih berat dan bisa jadi mempertaruhkan nyawa seperti kisah Rase, telik sandi kepercayaan Patih Gajah Mada atau Huzdaifah Ibnu Yaman, telik sandi pilihan Muhammad. Akan tetapi mata-mata internal juga penuh lika-liku dan pelik karena bagaimanapun juga yang disusupi dan diam-diam diawasi adalah bagian dari dirinya sendiri.

Rikuh pakewuh atau segan jelas ada di setiap gerak langkah mata-mata internal ini. Bisa jadi kemudian dia mau tak mau berurusan dengan kawan sendiri, apalagi jika sang telik sandi juga bertugas sebagai eksekutor. Abot, berat dan tak mengenakkan hati.

Dan biasanya telik sandi jenis ini mudah ditengeri alias gampang ditandai, itu jika anda mau meluangkan waktu dan perhatian untuk mengamatinya. Yang lucu itu jika telik sandi malah memperkenalkan diri sebagai telik sandi dan minta diantarkan kemana-mana. Ini sama lucunya dengan reserse yang kemana-mana ngaku reserse.

Instansi tempat saya macul termasuk yang menggunakan sistem telik sandi internal demi menjaga penegakan disiplin. Banyak yang gerah ataupun jengah tatkala ada kabar burung bahwa kantor kami didatangi telik sandi, bahkan yang tidak salah apapun bisa ikut panik dan repot.

Karena mencari kesalahan kan memang mudah, apalagi jika kesalahan yang bisa dieksekusi itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, dari A sampai Z, dari Alif sampai Yaa. Jauh di lubuk hati, manusia pasti mengharapkan keselarasan akan tingkah laku dengan norma dan hukum apalagi yang sudah disepakati bersama.

Adapun rasa tidak nyaman yang muncul, bisa jadi lantaran masih banyaknya ketimpangan, tebang pilih ataupun praktek yang tidak jelas dalam upaya penegakan disiplin tadi. Sekali lagi, mencari kesalahan itu mudah, yang sulit itu bagaimana agar pelaku kesalahan bisa menyadari kesalahannya, memperbaikinya dan tidak mengulanginya. Dan bukankah itu yang paling penting?

Ketika unsur keadilan dan kesetaraan terpenuhi, niscaya semangat untuk memperbaiki diri tumbuh dengan sendirinya, bahkan mungkin tanpa adanya ketakutan terkena sanksi, murni dari hati. Seperti kisah jasus di awal cerita ini.

Tapi, siapatah saya? Saya hanya jebolan pesantren, tak pernah menyandang predikat lulus apalagi mendapat ijazah dari sana.

One thought on “Telik Sandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *