Hijrah

Tadi pagi Mr. No, juragan saya di kantor bertanya kepada para pegawainya. Pertanyaannya sederhana saja sebenarnya, jawabannya yang susah. Pertanyaan yang yang sebenarnya jawabannya tentu berbeda-beda tergantung penjawabnya. Pokoknya pertanyaan yang sebaiknya ndak usah dijawab, nunggu dari si penanya melemparkan alternatif jawaban untuk kemudian ngangguk-angguk tanda setuju.

“Sebenarnya apa sih makna hidup itu?”

Modar tho nek bos sudah bertanya begitu. Wawasan dan kecerdasan kita dituntut dalam merespon pertanyaan macam begini, termasuk referensi filsafat sebanyak mungkin. Tapi sekali lagi, bahasa tubuh yang serius memperhatikan dan menunggu alternatif jawaban dari si penanya akan lebih masuk akal. Daripada asal njeplak ngomong tanpa referensi.

Akan tetapi pertanyaan tadi bukan retoris. Karena setiap hari kita diberi pertanyaan yang sama. Baik melalui desir angin, sengat matahari atau butiran pasir yang membuat saya kelilipan saat berkendara sepeda motor.

Kita harus menjawabnya. Mau tidak mau.

Mr. No, sebagaimana orang pinter lainnya, selalu menjawab pertanyaan (yang beliau lempar sendiri) dengan pertanyaan baru. Bicara soal makna hidup, menurut beliau harus dilihat dari kata hidup itu sendiri. Apakah kata benda, atau kata kerja.

Karena hidup sebagai kata benda akan stagnan dan diam saja, sedang sebagai kata kerja dia selalu bergerak dalam perubahan.

Hal ini seperti melemparkan saya ke masa kecil saya saat masih menjadi sahabat karib radio portabel milik saya. Dari radio hadiah ulang tahun saya itu saya sering mendengar kutipan dari Herakleitos┬átentang “Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan”, di stasiun RRI Purwokerto kalau tidak salah ingat.

Pemikiran Herakleitos ini baru saya baca-baca saat akhir masa SMP. Filsuf angkuh dan gelap ini tenar mencela filsuf lain yang berseberangan dengannya meski tak bisa dipungkiri, apa yang dia yakini sebenarnya sedikit-banyak juga terpengaruh dengan pola pikir para filsuf lain.

Herakleitos menganggap kenyataan itu seperti aliran air sungai, dimana tidak ada seorang pun yang turun dua kali ke dalam sungai yang sama. Maksudnya kalaupun anda memasuki satu bagian sungai yang sama persis seperti yang pernah anda lakukan, air yang anda sentuh bukanlah air yang sama.

Demikian juga dengan ngantor. Sesungguhnya meskipun apa yang kita lakukan seolah-olah melulu begitu, realitanya itu berbeda.

Contohnya begini, tukang nasi goreng yang sering mengeluh jemu dengan pekerjaannya yang katanya membosankan karena itu-itu melulu, tidak menyadari bahwa tak pernah ada satu nasi goreng pun yang sama persis sepanjang kariernya dalam dunia pernasigorengan. Beda waktu dan beda pesanan, beda kondisi dan situasi. Bukankah meski sudah puluhan tahun menjadi tukang nasi goreng tidak lantas membuatnya bisa santai tutup mata dan acuh tak acuh saat membuat nasi goreng pesanan pelanggannya?

Hidup itu pengalaman yang baru di tiap detiknya, ujar seorang kawan yang pernah bersepeda antar propinsi. Dengan pendapat-pendapat tadi, boleh jadi disimpulkan perubahan adalah pergeseran, mutasi atau pepindahan dari satu titik ke titik yang lain. Nama lainnya itu hijrah.

Nampaknya hijrah itu sebuah hal yang wajar dan niscaya kita lakukan. Yang membedakan mungkin caranya dan besaran lompatan yang dilakukan. Ada yang sithik-sithik, ada yang dalam skala yang besar. Ada yang pelan-pelan, ada yang mendadak dan cepat.

Kembali ke pertanyaan mengenai memaknai hidup tadi, bisa digaris bawahi memaknai kehidupan itu dilakukan dengan menjadi lebih baik. Meski kemudian muncul pertanyaan baru, baik menurut standar yang mana dan menurut siapa?

Karena ndak tahu dengan pasti, saya percaya saja kalau ada yang bilang bahwa kita yang sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa lalu. Tinggal dilihat apakah kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Jika memang dirasa perlu, mungkin hijrah-nya harus dipercepat atau dipaksakan.

“Mas, si Jaka sekarang sudah ndak ngantor di sini lagi ya? Kabarnya sudah eksodus dan memilih menjadi pegawai partikelir.”, ujar seorang kawan yang entah mengapa memilih saya sebagai tempat bertanya tentang status kepegawaian salah seorang rekan sejawat yang beberapa waktu lalu memutuskan untuk berhenti dari instansi kami.

“Kayaknya sih begitu, mungkin hijrah saja…”, ujar saya asal-asalan.

“Lha dia sekarang juga ngurusi akuntansi di tempat kerja barunya. Akuntansi kan yo bukan ilmunya para Moloikat lho, Mas!”, tambahnya, menggebu.

“Yang bilang itu ilmunya malaikat yo siapa? Si Jaka yo pasti sadar, Akuntansi itu sekedar alat, bisa untuk kebaikan, bisa juga untuk kejahatan.”

“Lha trus dia pake acara pindah itu kenapa? Wong dimanapun kita, dan dalam jabatan apapun kita, kalo memang mau baik ya tinggal berusaha baik saja tho?

Embuh! Wong aku juga bukan karibnya lho. Tapi mungkin dia mencari tempat dengan suasana baru yang menurut standarnya lebih bagus untuk ketenangan jiwanya. Kamu ini orang lain yang keluar kok rewel.”

Jadi, kalau menjumpai orang yang berkutat di satu bidang dan tidak berpikir untuk pindah itu bukan lantaran tak suka tantangan, karena bagaimanapun tantangan selalu ada. Sebab tak ada satupun hari yang persis sama.

Bicara soal perubahan, pindah, hijrah ataupun mutasi, jadi ingat anak lanang saya. Namanya Sabrang!

One thought on “Hijrah

  1. terlepas pada perubahan yang terus terjadi, bila kita mengingat matahari terbit dan terbenam. Maka kita akan melihat hidup, adalah sebuah repetisi yang luar biasa. Bukan pada kehebatan, tapi pada kesederhanaan semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *