Wow

Beberapa waktu lalu, Mbah Didik bercerita kepada saya dan Mas Lanting. Tentang kelakuan anaknya yang membuatnya sedikit kesal. Sebenarnya anak Mbah Didik itu tidak sendirian, ada ribuan atau mungkin malah jutaan orang lain yang melakukan hal yang sama. Semacam kegilaan secara berjama’ah atas nama kekinian dan tren.

Belakangan Mas Sinar, senior saya di kantor juga bercerita hal yang sama. Beliau yang mempunyai tiga orang anak yang kesemuanya perempuan ini dibuat bingung dengan tingkah polah anak-anaknya. Apa pasal?

Jadi rupanya tiap kali beliau-beliau menjelaskan sesuatu yang serius kepada anak-anak mereka, sang anak tanpa merasa bersalah menjawab dengan kalimat:

“Terus, gue harus bilang wow gitu?”

Lucu. Untuk sesaat. Dan jika berasal dari jiwa polos kanak-kanak. Tapi jika itu diulang-ulang dan terjadi dalam begitu banyak kesempatan, akan sangat menjengkelkan juga.

Pertama, hal yang sesungguhnya ingin disampaikan bisa tidak sampai dengan baik pada komunikan. Kedua, komunikator akan naik darahnya dengan becandaan yang sebenarnya bisa jadi lucu jika dalam suasana dan kondisi yang tepat serta tergantung siapa anda. Komunikan atau komunikator.

Menurut burungnya kabar burung, istilah yang sangat ngetren belakangan itu pertama kali diucapkan oleh Cherry, tokoh rekaan pada sebuah sinetron seri remaja bertajuk ‘Yang Masih Di Bawah Umur’ yang diperankan oleh Natasha Wilona. Saya ndak tahu pasti, karena jarang nongkrongi stasiun televisi dalam negeri.

Apa sih ‘wow’ itu?

Wow adalah runutan kejadian yang menyebabkan seorang atasan melakukan promosi ke salah satu bawahannya, juragan naikin gaji babunya, seorang yang relijius berujar subhanallah, atau seorang ibu bergetar hatinya tatkala anaknya menjadi pribadi mengagumkan jauh dari apa yang pernah ia impian, atau jeritan hati ketika seorang pemuda tanpa sengaja melihat mulusnya betis wanita yang dia idam-idamkan.

Jadi wow itu adalah respon terhadap sesuatu yang sangat serius dan atau sangat bagus belaka. Uniknya, sesuatu yang ‘tidak wow’ bukan berarti sesuatu itu tidak bagus atau tidak serius. Bisa saja sesuatu itu berada dalam tataran biasa, sedang-sedang saja atau lumayan, tergantung subyeknya.

Area subyektifitas ini rentan konflik. Jangankan soal perasaan, soal rasa saja beda kepala beda standar. Bisa jadi sambal dari cobek yang sama akan sampean rasakan pedas membakar lidah, sedang saya adem ayem saja menikmati sensasi terbakar di lidah dengan penuh kekaleman.

Berbicara, sebagai salah satu bentuk dari sekian banyak cara berkomunikasi, membutuhkan imbal balik atau respon dari lawan bicaranya. Butuh energi dan pemikiran ketika sesuatu yang disampaikan itu penting dan serius. Karena berkomunikasi itu sejatinya seni, membutuhkan ilmu agar komunikasi bisa efektif dan efisien.

Respon memang bisa bermacam-macam, tergantung juga dari subyek si pemberi respon. Ada wawasan di sana, ada intelektualitas di sana, ada goodwill atau niatan baik di sana, termasuk juga faktor tingkat pendengaran.

Respon negatif jika hadir karena disebabkan oleh faktor telinga, maka bisa lebih dimaklumi dibanding jika respon negatif tersebut berasal dari niatan buruk. Sedang respon negatif yang berasal dari rendahnya IQ seseorang itu mau tidak mau, rela tidak rela harus ditanggapi dengan legowo, meski sesekali perlu digebuk juga. Lagi-lagi ini soal nuansa. Kontekstual.

Lalu bagaimana dengan kalimat “Terus, gue harus bilang wow gitu?” tadi? Kenapa untuk banyak orang hal ini sangat menjengkelkan?

Mungkin, perasaan jengkel yang muncul itu lebih karena merasa kurang dihargai. Yang akan disampaikan itu bisa penting dan bisa juga tidak, bisa sesuatu yang baru bisa juga sesuatu yang basi, bisa bagus atau bisa jadi jelek. Tapi respon gaul tadi itu sekedar menunjukkan bahwa komunikan sebenarnya tidak peduli tentang esensi yang dikirim oleh komunikator, dia hanya menunggu momen yang tepat untuk berujar: “Terus, gue harus bilang wow gitu?”.

Celakanya banyak sekali jenis-jenis “Terus, gue harus bilang wow gitu?” di dunia ini meski menyaru atau menyamar menjadi bentuk yang beragam baik dari sisi pengguna, bentuknya maupun tingkatannya.

Taruhlah dalam dunia politik, jika diamati para oposan akan melulu sibuk mengomentari segala yang pemerintah lakukan dengan kalimat: “Terus, gue harus bilang wow gitu?” versi dia sendiri. Soal apakah yang disampaikan atau dilakukan oleh Pemerintah itu tepat atau tidak, perlu atau tidak, konstitusional atau tidak, itu bukan masalah buat mereka.

Dalam pelayanan masyarakat juga banyak ditemukan “Terus, gue harus bilang wow gitu?”.

Pemerintah bikin jalan dan jembatan, “Terus, gue harus bilang wow gitu?”.

Pemerintah membantu korban bencana alam semaksimal mungkin dengan berusaha tidak menabrak terlalu banyak aturan yang sebelumnya sudah disepakati bersama, “Terus, gue harus bilang wow gitu?”.

Pertumbuhan ekonomi lumayan, “Terus, gue harus bilang wow gitu?”. Dan sebagainya.

Dan dalam level ignorance tingkat kosmik, dalam tingkatan kecuekan super bebal, kita sering bilang “Terus, gue harus bilang wow gitu?” juga.

Matahari, yang entah bagaimana caranya bisa dimunculkan oleh Tuhan dari arah yang sama dan dalam waktu yang kayaknya ndak berbeda dari hari sebelumnya, tidak telat dan tidak kecepetan, lalu kita merespon dengan “Terus, gue harus bilang wow gitu?”.

Itu baru soal matahari.

“Terus, gue harus bilang wow gitu?” itu bentuk ketidakpedulian paling fatal. Dia bahkan tak mencoba menyentuh esensi apakah sesuatu itu harus dipedulikan atau dicuekin. Pokoknya waton mencoba lucu. Mencoba lucu jelas beda dengan menjadi lucu. Dan siapa bilang harus selalu lucu?

Dengan adanya kemungkinan tulisan ini direspon dengan “Terus, gue harus bilang wow gitu?”, saya sudah menyiapkan jawabannya saat itu terjadi.

“Fuck you! Fuck you very much!”

NB: Ucapan ‘fuck you” jelas lebih mempunyai kepedulian akan sesuatu dibanding dengan “Terus, gue harus bilang wow gitu?”, menurut hemat saya. Dimana ada kepedulian, ada cinta di sana. Sedang Tuhan bersemayam dalam cinta.

5 thoughts on “Wow

  1. Pingback: Oh | kandang kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *