Oeang!

Hari ini, enam puluh enam tahun yang lalu, adalah kali pertama republik ini mengeluarkan uang resminya. Uang kertas dengan pecahan satu sen bergambar keris di bagian depan dan teks undang-undang di bagian belakang ini ditandatangani oleh AA. Maramis dan disebut dengan ORI, Oeang Republik Indonesia.

Memang, uang ini bukan uang yang pertama kali dikenal di bumi Indonesia. Sebelumnya ada mata uang yang digunakan sesuai aturan yang diberikan oleh para penjajah. Penetapan ORI ini otomatis mendeklarasikan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank yang saat itu beredar, tidak berlaku lagi.

Selain dari sisi ekonomi, penerbitan uang sendiri ini merupakan perlambang kemandirian dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Iya, rupanya negara tidak hanya butuh deklarasi proklamasi belaka. Kalau sebuah rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan satu orang anak saja membutuhkan banyak hal dan kompleks, bayangkan yang dibutuhkan sebuah negara.

Mata uang rupanya menjadi identitas, menjadi tolok ukur eksistensi sebuah negara. Dan tentu saja sebagai alat komunikasi antar bangsa-bangsa yang bermartabat di bumi ini.

Jadi tadi pagi, saya dan banyak teman-teman sejawat saya yang berada dalam satu rumpun kementerian melaksanakan upacara memperingati hari ulang tahun uang republik ini, atau yang secara resmi dinamakan Hari Oeang yang ke-66.

Cuaca sangat terik meski hari masih pagi, keringat saya sudah dleweran kemana-mana ketika saya sampai di halaman sebuah kantor yang dijadikan tempat upacara. Berhubung kenalan saya ndak banyak, saya secara otomatis mencari kawan-kawan sekantor saya yang kebetulan sudah pada ngumpul ngiyup di bawah tenda.

Ada yang unik dengan kawan-kawan saya ini, tiba-tiba saya sadar bahwa calon peserta upacara dari kantor saya ini berbeda dengan kantor yang lain. Ada yang berseragam hitam-putih, ada pula yang berbatik resmi kantor berwarna biru.

Ndak ada yang salah dengan perbedaan seragam, karena jika merujuk ke surat tugasnya memang tertulis ada yang harus berseragam hitam-putih, ada juga yang berbatik. Yang belakangan kami ketahui bahwa ada perubahan isi acara sehingga semua peserta upacara diwajibkan untuk mengenakan kemeja putih.

Informasi inilah yang kami tidak ketahui. Saya yang sejak awal memang dijatahi untuk berkemeja putih ya ayem-ayem saja. Sedang kawan saya seperti Mbah Didik Van Jogja ini yang bingung, karena salah kostum.

Salah kostum itu dalam kondisi tertentu memang lucu. Tapi jika salah kostum itu disebabkan oleh komunikasi dan manajerial yang tidak efektif dan efisien, jadi lain ceritanya.

Upacara pun dimulai. Makin kaget saya ketika yang berbaju putih dan ikut upacara dari kantor saya itu jumlahnya hanya enam orang. Sementara kantor lain mengutus para pegawainya lebih dari 20 orang. Lucu, tapi tidak lucu untuk kami yang berenam berdiri di lapangan upacara. Beberapa kawan kantor saya yang kebetulan berbaju putih rupanya enggan untuk ikut upacara, dan belakangan saya ketahui, banyak juga yang sama sekali tidak hadir di lokasi upacara.

Mbah Didik yang berbatik biru jadi serba salah. Kalo bergabung dengan saya untuk upacara akan malah makin memperburuk kondisi kami, karena semua peserta berbaju putih! Akhirnya karena Mbah Didik merasa bukan tempatnya untuk duduk manis di tenda para tamu kehormatan, beliau memilih nongkrong bersama supir-supir di bagian belakang.

Untung saja, teman-teman kantor lain berbaik hati, bergabung dengan barisan kami sehingga formasi kami menggelembung dan nampak normal. Kami berenam menjadi lebih percaya diri, sekarang.

Upacara berlangsung cukup khidmat dan lancar meski kami harus face-to-face menghadap ke arah matahari. Mas Ebiet di sebelah kiri saya bahkan sampai-sampai tak mampu lagi berkeringat, kemungkinan besar karena sudah menguap semuanya, sementara saya dan Mas Cagak Langit tak henti-hentinya bercucuran keringat.

Beberapa teman kami yang meski berbaju putih tapi tak mau menjadi peserta upacara, dan memilih duduk di bawah tenda bersama para tamu kehormatan, sesekali melempar senyum manis kepada kami yang bercucur peluh dan bergelimang keringat. Senyum itu tentu bukan sedang ngece menghina kami, tidak mungkin itu. Senyum itu tentu tulus dengan tujuan meringankan beban yang sedang kami tanggung.

Upacara itu penting atau tidak? Bisa penting, bisa tidak. Tergantung darimana kita melihatnya. Ndak bisa juga kita menghapus segala bentuk ritual-seremonial dan berharap nasionalisme tumbuh dengan sendirinya. Mungkin bisa tapi ini pertaruhan yang terlampau besar. Jaman kita dengan jaman revolusi sangat berbeda. Tanpa upacara, orang-orang jaman pergerakan kemerdekaan sudah tergetar dadanya melihat bendera merah putih.

Lalu kenapa saya yang dulu koar-koar tidak pernah upacara di tulisan-tulisan terdahulu (di blog lain) kini mau upacara?

Jawabnya sederhana. Sesederhana rumus matematika yang saya pergunakan untuk memperkirakan jumlah rekan sekantor yang berangkat upacara. Jika tidak terlalu gemagah dan sombong, saya akan bilang saya ikut upacara karena kalau saya ndak ikut njur yang ikut siapa? Toh surat tugas sudah dibuat dan saya harus mempertanggungjawabkannya.

Upacara memang tidak secara langsung nyambung dengan sumbangsih saya ke bumi pertiwi. Tapi surat tugas itu ya surat tugas. Harus dilaksanakan sebaik mungkin, karena jika kita hanya menganggapnya sebagai secarik kertas, maka begitu pula teks proklamasi atau kitab suci. Silakan tuduh saya ini terlalu serius, tapi saya bekerja dalam institusi yang memberi saya wewenang untuk memerintahkan warga negara lain guna menyisihkan penghasilan mereka untuk kepentingan negara dengan hanya berbekal kertas.

Di luar komunikasi serta manajemen yang penting untuk dicermati, jangan-jangan saya juga masih harus belajar banyak untuk memahami apa yang tertulis dan dimaksudkan dalam secarik kertas. Kertas juga kontekstual rupanya. Dan saya juga masih meraba-raba kalau harus mikir soal kertas dalam koridor sektoral, temporal, pragmatis, insidental, tekstual, parsial, integralistik, atau sistemik. Ayak!

One thought on “Oeang!

  1. Khusus mengenai Oeang bang, saya sampai sekarang belum memahami sisi sejarah setelah ORI keluar, mengapa kita (R.I) memutuskan mengganti B.N.I (Milik pemerintah) ke De Javasche Bank (kelak B.I yang milik swasta) menjadi Bank Sentral, saya sudah bertanya kepada Professor pun juga tidak puas. Entah saya yang tidak paham penjelasan beliau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *