Jazz

Bicara soal musik saya dan dua kawan kantor saya, Mas Lanting dan Mbah Didik itu mempunyai selera yang berbeda-beda meski masih ada benang merahnya. Mbah Didik itu penyuka pop (dan sedikit campur rock) lokal macam Dewa (baik yang pake 19 ataupun tidak), Ada Band, Kerispatih dan tentu saja Ari Lasso. Meski belakangan teracuni dengan lagu-lagu pop-country Manado besutan Tantowi Yahya.

Nah untuk Mas Lanting ini unik, meski beliau ini penyuka musik yang berirama tak terlalu cepat seperti Mbah Didik, ternyata jauh di lubuk hati beliau rocker juga. Beliau bahkan hafal lirik beberapa lagu di album Conspiracy Of One milik band amerika The Offspring yang dirilis tahun 2000. Selain itu juga beliau menyukai lagu-lagu campursari dan (seperti saya) tentu saja dangdut koplo bahkan rap jowo.

Sedangkan saya, seperti halnya untuk urusan makanan dimana saya ditahbiskan untuk menjadi omnivora, dalam selera musik pun saya tidak jauh berbeda. Koleksi lagu-lagu dalam gadget saya sering membuat geleng-geleng teman-teman saya, karena tidak jelas selera saya itu musik jenis apa.

Mulai dari rock sampai dangdut, dari pop klasik hingga punk bahkan elektro pun ada. Termasuk musik jazz. Nah, musik jenis inilah yang ingin saya bahas.

Musik jazz yang baru muncul di abad 20 di belahan bumi Amerika ini bisa dibilang sebagai musik yang keliru. Pengertian keliru di sini berbeda dengan kelirunya dangdut koplo, misalnya, karena kalau sampean nonton dangdut koplo, bisa saja ketemu dengan penyanyi wanita berubuh bohay-dibohay-bohaykan, dengan tata rias yang over dosis dan liukan tubuh enerjik luar biasa padahal yang dinyanyikan itu ‘Siksa Kubur’.

“Hancur lebur tulangnya serta hangus tubuhnya, karena dihimpit bumi dan dimakan api..”

Kelirunya musik jazz itu lebih dari segi musikalitas. Dimana para musisi yang terlibat itu boleh ngapain aja, sesuka-sukanya mereka. Inti musik jazz adalah improvisasi para pemainnya. Makanya bisa saja dalam sebuah aransemen lagu dalam aransemen jazz, semua instrumen dari bas, drum, gitar, piano bahkan penyanyinya masing-masing bebas cuek bebek menunjukkan eksistensinya.

Pamer kemampuan dan unjuk kebolehan itu hal yang sah-sah saja rupanya. Segala keanehan, keruwetan, kenjlimetan, ke-sakpenakedewe-an tadi tetap harus dalam bentangan harmoni yang sama. Sehingga meski aneh, tetap enak di telinga.

Coba saja, biarpun bagi bukan penikmat musik jazz, ketika menunggu penerbangan yang terlambat, musik jazz akan lebih masuk akal untuk diperdengarkan dibanding musik dangdut koplo, misalnya. Dan akan enak-enak saja di telinga.

Sang gitaris boleh menjelajahi senar demi senar sesukanya menurut ‘roso’ miliknya, pemain bas boleh membetot-betot senar basnya larut dalam emosi batinnya, pemain piano juga boleh memijit-mijit tuts demi tuts, sang penyanyi diijinkan mendaki tangga-tangga nada menurut kemauan dan kemampuannya, akan tetapi harmoni lah yang mereka sepakati untuk dicari.

Dalam jazz, pemain bass tak harus selalu manut apa maunya gitar dan drum. Drummer juga boleh sekali-kali bercanda melenceng sedikit dari ketukan standar sehingga tidak melulu menjalankan kewajibannya dalam menjaga ritme band. Gitaris juga boleh unjuk kemampuan seperti gitaris di band genre musik apapun. Apalagi vokalis yang memang nyawanya sebuah lagu, jika lagu itu bukan instrumental. Tapi usaha mencapai harmonilah yang membuat lagu jazz enak didengar.

Ada cinta di sana. Ada begitu banyak cinta. Ketika sang bassis sibuk dengan bass-nya, sejatinya sedang menunjukkan cinta akan dirinya sendiri. Ego, rasa ingin eksis dan narsisme yang berperan. Tapi ketika dia menjaga harmoni agar tetap ada benang merah dengan instrumen lain, itu juga cinta. Cinta kepada sesuatu yang lebih besar dari cinta terhadap dirinya sendiri.

Musik jazz lekat dengan kebebasan akan kungkungan jenis musik dan pakem yang berlaku, akan tetapi ketika kebebasan menjadi kebablasan, maka hancurlah irama dan lagunya.

Jika dikorelasikan dengan kebenaran, memainkan bass dengan benar menurut ‘roso’ tidak lantas serta merta membuat kita bisa menyalahkan sang gitaris dalam memainkan gitarnya, atau ngece cara bermain penggebuk drum. Ketika masing-masing pemain instrumen memainkannya dengan benar menurut ‘roso’ dan dijiwai dengan tanggung jawab menjaga harmoni, kebenaran yang awalnya kontekstual menjadi sebuah kebenaran yang kolektif, meski berbeda-beda.

Saya pribadi ingin sebuah organisasi itu nge-jazz saja. Jangan ndangdut terus, sesekali sih boleh. Kalo terus menerus nanti kejadian deh, lirik sedih dan nangis bombay tapi sambil joget-joget membirahi. Jazzy saja.

Terserah sampean semua mau bagaimana dan mau menerapkannya dimana saja. Yang namanya organisasi itu melibatkan banyak orang, beragam ide, banyak sifat, beragam latar belakang, banyak motif, beragam tujuan dan sebagainya. Organisasi itu bisa bernama band. Atau kantor. Atau sebuah rumah tangga.

Makanya saya ini lagi ndak sabar nunggu ibunya anak-anak untuk ngejak belajar nge-jazz lagi…

2 thoughts on “Jazz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *