Saru

Jika bisa,
akan kutulis kisah tentangku dengan kertas beraroma busuk,
Dengan tinta menyala menusuk mata,
Dengan pilihan kata-kata hina,

Jika mampu,
akan kuceritakan kisahku bak kisah laknat dalam kitab suci,
Dengan kata-kata kutukan dan cacian,
Disisipi doa agar tak ada yang menirunya,

Jika sempat,
Akan kulukis diriku dalam sapuan kuas pemabuk,
Dengan goresan panjang dan dalam,
Membentuk wujud hina nan mengerikan,

Aku adalah manusia lemah,
Dengan gelimang kesombongan.
Kesombongan yang nyata-nyata milik tuhan,
Diaku-aku sepenuh hati oleh iblis.

Tidak, aku tidak akan bicara
akan ikut-ikutan seperti Tuhan.
Atau koar-koar takut padanya.
Karena disanalah benih kesombongan.

Jika bisa, jika mampu dan jika sudi, aku akan mengaku sebagai iblis,
Padahal bisa jadi aku lebih terkutuk darinya.
Namanya saja mengaku-aku..

Jika bisa, jika mampu dan jika sempat,
Akan kubunuh kesombonganku sejak saat itu berbentuk benih,
Akan kuberangus media tanamnya,
Akan kucerabut akarnya

Tapi siapalah aku?
Yang mungkin bisa kulakukan agar tidak sombong
Adalah membuat diriku tak mempunyai apa-apa untuk disombongkan.

Tapi tuhan maha pemberi,
Diberinya aku banyak hal,

Maka mungkin benar,
Satu-satunya cara adalah
Jika aku bisa, jika aku mampu dan jika aku sempat,
Aku menyaru menjadi iblis.

Menyaru, bukan mengaku.

Sayangnya aku manusia,
biasa-biasa saja pula..

Ditulis sebagai peringatan hari lahir diri sendiri. 🙂

One thought on “Saru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *