Burung

Kadang kita ndak bisa menduga-duga bagaimana kita bisa dibawa ke dalam suatu perbincangan yang sejatinya luar biasa berat namun dalam balutan ringan dan bungkusan basa-basi harian. Dan hari itu pertanyaan saya murni agar saya punya bahan obrolan saja.

“Burung itu dikandangin sendirian, opo yo ndak bosen yo mas? Opo ndak kesepian? Galau…”


Ujar saya, seolah-olah bertanya, padahal sekadar mematahkan hening di antara kami berdua, kawan saya itu.

Ha yo ndak lah.. Burung kan ndak punya perasaan kayak kita. Mungkin punya tapi ndak kaya kita manusia..”, jawabnya tegas.

“Oh…”

Lalu hening lagi. Saya bingung. Kawan saya tengah asyik dengan burung (piaraan) kesayangannya, sedang saya sama sekali asing dengan dunia kukila ini. Pengetahuan saya nol besar.

Tapi keheningan ini harus dibunuh. Mbahas apa enaknya? Politik? Berat dan ndak ada yang mutu belakangan. Basa-basi pribadi semisal nanya kabar anak? Bakal menuai cemoohan kawan saya itu. Dia kenal betul saya tak pandai basa-basi.

“Kamu itu mbersihin kandang tiap hari, mandiin, njemur, nyariin pakan yang susah biar apa tho?, ucap saya tiba-tiba.

“Yo biar manuknya seneng, lalu ngoceh. Manuke seneng, yang punya juga bakal seneng ndengerin merdu suaranya!! Mosok gitu aja nanya?”, tukas kawan saya dengan berapi-api, seperti berhadapan dengan idiot.

“Oh, burung bisa seneng…”

“Diamput! Kalo ngobrol ama kamu mesti penuh jebakan!!!”, teriaknya sambil menyiram saya dengan air yang sedianya untuk mencuci kandang burungnya.

One thought on “Burung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *