Kasual

Minggu depan, kantor tempat saya nitip awak golek upa akan mengadakan acara perpisahan bagi kawan-kawan yang terkena mutasi ke kantor lain. Mutasi adalah hal yang lumrah dan jamak terjadi di instansi saya, mengingat kantor instansi saya itu tersebar di seluruh nusantara, meski secara jumlah masih kalah dengan minimarket yang juga berlambang lebah itu.

Nah, karena mutasi bukan hal yang aneh, maka acara perpisahan macam begitu tentu bukan baru sekali dua kali dilaksanakan, tapi berkali-kali. Rutin. Dan sebagaimana halnya dengan hal-hal rutin lain, acara perpisahan ini rupa-rupanya dianggap membosankan dalam hal formalitasnya.

Ya, karena kesibukan para pegawainya, acara perpisahan semacam ini sering dilaksanakan pada hari dan jam kerja. Makanya meski tidak diniatkan, acara bisa hadir sangat formal. Kaku dan baku. Ujung-ujungnya acara bisa ditebak urut-urutannya.

Dibuka oleh Penata Acara (MC, pen.), dan bisa dipastikan dengan pengucapan Basmalah secara bersama-sama, lalu lanjut dengan sambutan-sambutan, kesan & pesan mereka yang mutasi, kesan & pesan mereka yang ditinggal mutasi, penyerahan cendera mata, makan, doa dan ditutup dengan salam-salaman.

Begitu terus. Membosankan memang, jika dilihat dari kacamata mereka yang hadir di acara itu bukan sebagai yang pindah. Sedangkan buat yang pindah itu kontekstual. Tergantung suasana hati. Jika tempat baru adalah tempat yang lebih enak atau tempat yang diidam-idamkan, sejatinya mau diperpisahi kayak apapun dia bakalan happy-happy saja. Lain kalo tempat barunya itu dianggap kutukan olehnya.

Seorang kawan mengusulkan agar acara itu dilaksanakan secara santai dan sebisa mungkin ndak formal. Saya sih setuju-setuju saya. Formal atau tidak, bagi saya itu sekadar kemasan alias kulit. Dan acara ini adalah sebuah seremoni dari perpisahan, bukan perpisahan itu sendiri.

Yang berat itu perpisahannya, bukan seremoninya. Isinya bukan kulit atau paketnya.

Lantas apakah hal-hal seremonial semacam acara ini penting? Jawabannya macam-macam. Tapi biar saya jelaskan begini, penting tidaknya kulit itu tergantung, anda lagi ngomongin martabak telor atau telor itu sendiri?

2 thoughts on “Kasual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *