2014

Senja ini langit mendung, tapi tak juga hujan. Saya sembari menunggu maghrib menjelang, nangkring di sebuah warung angkringan di daerah kampus terbesar di kota ini. Minuman hangat dan hidangan sederhana nan menggoda, serta akses wifi gratisan cukup membuat saya jatuh cinta.

Tentu saya mau ikutan membahas tahun baru yang sebentar lagi menjelang. Hitungan jam. Di kantor saja perbincangan mengenai tahun baru dan rencana mereka untuk merayakannya sudah jauh-jauh hari diperbincangkan.

Ada yang mau pergi ke luar kota, ada yang berencana berkunjung di wahana wisata di dalam kota, ada yang berencana berkunjung ke sanak saudara, dan yang paling banyak tentu saja adalah mereka yang tidak punya rencana khusus untuk merayakan pergantian tahun ini.

Tadi pagi sebelum ngantor, saya berpikir dan langsung menuliskannya dalam akun twitter saya, saya penasaran, mengenai perayaan pergantan tahun, apakah sudah ada yang menulis soal keharamannya dalam media sosial? Sayang jaringan sedang jelek, rupanya rasa penasaran saya itu hanya sekadar menjadi draft twit, yang tentu saja akan janggal jika saya terbitkan sekarang.

Banyak yang memang tak kehabisan akal untuk mencari-cari hal untuk dibahas, setelah kemarin dan tahun-tahun sebelumnya juga meributkan diri soal status kehalalan mengucapkan selamat natal bagi kaum muslim, di sore ini saya menemukan hal yang sama, hanya saja kali ini soal perayaan tahun baru.

Tapi sudahlah, passion orang memang beda-beda. Dan tulisan ini semoga saja tidak akan membahas soal itu.

Bagi saya pribadi, akhir tahun 2013 ini tidaklah terlalu menarik. Pasalnya, sama sekali tidak ada ramalan kiamat. Bahkan tanggal 11 bulan 12 dan tahun (20)13 kemarin tidak dimanfaatkan sebagai momen untuk mereka-reka kisah kiamat. Entah pada kehabisan ide atau lelah dan disibukkan oleh urusan masing-masing.

Akhir tahun biasanya akan dihabiskan untuk menghitung-hitung laba-rugi kehidupan. Ada yang menginventarisir rencana-rencana awal tahun 2013 dan merancang target kehidupan tahun 2014. Dan tak lupa mengernyitkan dahi atas resolusi yang tak terlaksana.

Bagi saya, momen tahun baru itu tak ada bedanya dengan hari lain, sebenarnya. Iya, memang besok libur. So what?

Hidup itu sendiri sudah seperti stiker angkot, hari ini bayar, besok gratis, Begitu terus, Berputar sampai berhenti detak jantung kita. Bikin rencana bisa kapan saja, menghitung kegagalan juga bisa saat ini atau nanti.

Hari ini dengan besok atau lusa sebenarnya sama-sama hari biasa. Yang membedakan yang bagaimana kita mengisinya.

Saya sih ndak bermasalah dengan mereka yang hura-hura merayakan pergantian tahun, sama sekali tidak. Itu hak pribadi masing-masing. Mau diresmikan menjadi hari khusus senang-senang ya monggo. Asal tidak dibuat juklak dan SOP tentang bagaimana cara untuk bersenang-senang.

Senang-senang itu relatif. Apa yang menyenangkan saya bisa jadi menyebalkan buat sampeyan. Juga sebaliknya.

Bukankah sesungguhnya pergantian tahun itu spesial bagi mereka yang menganggapnya spesial, dan tidak spesial bagi mereka yang tidak menganggapnya spesial?

Seperti uang, uang jadi penting ketika kita sepakat bahwa uang itu penting. Kertas cetakan Peruri bertuliskan seratus ribu rupiah kita imani bernilai seratus ribu rupiah bukankah murni karena kita bersepakat menganggapnya demikian?

Sampeyan boleh-boleh saja mau jungkir balik khusus untuk merayakan malam tahun baru. Asal jungkir baliknya tidak di depan saya saat saya buang hajat di dalam kamar mandi, misalnya.

Senang-senang itu relatif. Makanya senangnya tukang angkringan tempat saya ngetik tulisan ini bisa jadi berbeda dengan kawan saya yang kerja kantoran. Dan beda kantor bisa beda keadaan. Anak-anak audit partikelir tentu sedang sibuk-sibuknya.

Ada yang senang karena akhirnya ada masa rehat setelah setahun penuh sibuk bekerja. Tapi bagi tukang angkringan, malam pergantian tahun justru tidak dihabiskan untuk berleha-leha, melainkan semalam suntuk berdagang dengan menambah porsi dagangan tiga kali lipat.

Lantas apakah tukang angkringan itu menggerutu karena di saat orang lain bersenang-senang merayakan, sedang dia sendiri sibuk bekerja? Bisa jadi tidak. Bisa jadi dia malah menjalani malam ini dengan penuh harap dan senyum sumringah. Serta doa agar tidak turun hujan, tentu saja.

Maka mari kita sambut pergantian tahun baru kali ini dengan pengharapan kita bisa menjalani hari esok dengan sebaik-baiknya. Saya mau ke minimarket, seperti biasa, tak asyik jika leyeh-leyeh di depan televisi tanpa dikawani cemilan.

Bagi yang sudah sibuk membuat laporan akhir tahun ataupun kaleidoskop setahun penuh, silakan kalau-kalau mau melanjutkan merenungi kaleidoskop kehidupan pribadinya.

Sampai ketemu di tahun 2014. Salam.

One thought on “2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *