Joget Bersama Para Bajingan

Ketika band Queens of The Stone Age (QoTSA) merilis lagu “The Way You Used To Do” pada tanggal 15 Juni 2017 lalu, saya sudah menebak, Josh Homme (Kyuss, QoTSA, Them Crooked Vultures, Eagles of Death Metal) dan kawan-kawan akan melakukan perubahan dari gaya bermusik mereka. Dari hasil pencarian lewat Google, saya baru tahu bahwa untuk penggarapan album baru mereka, Mark Ronson dijadikan produser.

Sempat agak-agak kuatir album baru QoTSA akan bernasib seperti lagu “Uptown Funk” yang dinyanyikan Bruno Mars di tahun 2014 lalu (yang sama sekali bukan kesukaan saya), tapi begitu mendengarkan single pertama dari album ke tujuh mereka ini, saya bahagia.

Memang QoTSA jadi lebih riang dan musiknya mengajak berjoget, pinggul dan kepala, jangan-jangan ini gara-gara di kesempatan sebelumnya, Josh Homme berkolaborasi dengan Iggy Pop untuk membuat album “Post Pop Depression” (2016). Album ini, jujur sangat aneh di kuping saya.

Saya memang menggemari Iggy Pop, dan memuja Josh Homme sejak tergabung di band Kyuss, tapi “Post Pop Depression” menawarkan sesuatu yang lain. Jika anda pernah menyantap makanan (atau minuman) Es Rujak, yang perpaduan antara es dengan rujak buah, maka kira-kira seperti itulah pendapat saya soal album kolaborasi dedengkot punk dan sesepuh dessert rock tersebut.

Singel pertama QoTSA saya sukai secara instan, mungkin karena rindu, dan mungkin juga karena terperangah dengan keceriaan yang ditawarkan. Lagu ini sama sekali tak mirip dengan lagu-lagu di album sebelumnya, “…Like Clockwork” (2013), yang sangat gelap dan mengajak bunuh diri massal.

Sebagai penggemar, saya tentu tahu album “…Like Clockwork” dibuat setelah Josh Homme mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Tahun 2011 dia dirawat 11 hari di rumah sakit dan harus istirahat selama 4 bulan setelah “meninggal” di meja operasi. Saat bedrest inilah Josh mengalami depresi parah, sehingga wajar ketika akhirnya QoTSA merilis album baru, sangat kelam dan sedih.

Namun bukan QoTSA namanya kalau tak bisa memukau khalayak meski materi yang diusung materi yang penuh penderitaan, terbukti album “…Like Clockwork” panen puja-puji.

Lagu “The Way You Used To Do” dimulai dengan dentuman bass drum dan tepuk tangan riang mengajak bergoyang, dan liriknya seperti biasa cuek, membicarakan apa saja, termasuk cinta.

Is love mental disease or lucky fever dream?
Fine with either
Gave birth to monsters who will terrorize normalcy, yeah
They’ll terrorize

atau

My heart, a ding-a-ling
A puppet on a string
C’est la vie
So lay your hands across my beating heart, love

Ah! Betapa saya suka keriangan ini. Sound gitar yang berat namun tetap dapat membentuk rythm yang ajaib, dipadu dengan suara bass dan drum yang bersaut-sautan lalu dilengkapi dengan bebunyian aneh khas QoTSA.

Album “Villains” ini sempat bocor sebelum tanggal rilis resminya, mungkin karena itulah pihak manajemen sengaja membagi-bagikan beberapa lagunya dalam bentuk audio di laman Youtube mereka setelah album dirilis secara resmi.

Jika ada satu hal yang menjadi spesialisasi QoTSA, mungkin kemampuan mereka dalam beradaptasi. Masalah demi masalah mendera band ini, tentu saja mengubah ‘suasana’ dalam bermusik. Dan baru dalam album inilah QoTSA merilis album tanpa bantuan bintang tamu. Dave Grohl (Foo Fighters, Them Crooked Vultures, Nirvana) yang selain menjadi sahabat karib Josh Homme juga menjadi langganan bintang tamu di album-album QoTSA, di album “Villains” dia absen.

Sang produser, Mark Ronson, yang tenar mempunyai sound khas dalam tiap musik yang ia garap, pun seolah kalah gagah dengan keperkasaan QoTSA, sehingga kita hanya akan mendengar dedengkot dessert rock bersenang-senang.

Album ini dibuka dengan lagu berdurasi 5 menit 41 detik yang intronya kelam dan gelap, yang mengingatkan saya pada album “Rated R” (2000), namun lalu berbelok dengan riff gitar yang funky (meski tetap saja berat untuk ukuran Mark Ronson!), dan spontan saya berjoget mengikuti iramanya.

Secara keseluruhan, album ini belum menggeser posisi album “Rated R” di hati saya, akan tetapi jauh di atas “Era Vulgaris” (2007) yang mengecewakan banyak penggemar. Awal mendengarkan keselurhan lagu yang berdurasi 48 menit ini, saya merasa biasa-biasa saja, namun setelah didengarkan berulang kali, saya makin menyukai materinya. Ini pertanda bagus, semua album bagus selalu demikian. Biasa saat awal didengarkan, dan makin lama makin enak di telinga.

Dan untuk urusan lirik, Josh Homme masih belum kehilangan taji, coba tengok lirik lagu “Fortress“, yang mellow namun bijak membahas hati yang dibentengi bisa juga runtuh, atau kalimat-kalimat di lagu yang membuat saya berjoget tadi, “Feet Don’t Fail Me” ini:

Life is hard, that’s why no one survives
I’m much older than I thought I’d be
Feel like a fool, just like a dancing fool, yeah
Footloose and fancy free

Bagaimana, mau coba?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *