Huma(n)s

Ngomong-ngomong soal humas, as humans.

Kopi sore kali ini belumlah dingin, tapi saya ingin cepat-cepat meneguknya hingga tandas habis. Semacam butuh asupan kafein sebanyak-banyaknya dalam tempo singkat. Lalu, saya meracik gelas kedua, lagi-lagi Gayo. Tubruk, kesukaan saya.

Layar gawai saya masih menyala, di sana terpampang salah satu pesan dari rekan saya, yang mempertanyakan peran kehumasan di tempat saya bekerja. Bukan menggugat, apa ya istilah yang pas dan tidak provokatif? Ya pokoknya di atas level bertanya-tanya namun masih jauh di bawah menggugat lah.

“Pay, kamu kan dekat dengan khayangan, mbok kamu bilang ke mereka, agar mengubah gaya humas kita!”

Apa pasal? Ini adalah kelanjutan dari kejadian tempo hari, seorang penulis kondang mengeluhkan besaran tarif pajak bagi profesi penulis. Dengan klaim bahwa profesinya itu paling dermawan dalam urusan membayar pajak bagi negara, tentu memancing banyak reaksi dari banyak pihak.

 

Kita semua tentu merasa spesial, atau setidak-tidaknya senang dan ingin jika dianggap spesial. Namun seperti martabak pinggir jalan, tiap lapak boleh menempel tulisan spesial. Dan memang tak pernah ada perlombaan atau sertifikasi tentang itu. Pokoknya merasa spesial itu, katakanlah, adalah hak.

Saat ada penulis kelas langitan saja gagal paham akan pajak, mungkin sudah saatnya kehumasan kita berhenti mengurusi generasi milenial!

Kira-kira demikian argumen rekan saya mengenai kehumasan tempat kami bekerja. Harap dipahami, bahwa saya pribadi sangat kagum dengan sikap kawan saya ini. Meski, seperti yang dia akui kepada saya, bukanlah siapa-siapa di organisasi tempatnya bekerja, rasa handarbeni alias rasa memiliki akan citra institusi, tak bisa dan tak berani saya ragukan.

Saya yang awalnya malas-malasan membalasi pesan-pesan yang masuk, akhirnya memutuskan untuk secara serius merespon pesan teman saya ini.

Saya penasaran, yang dimaksud generasi milenial itu yang mana? Karena dari yang saya baca, rentang umur yang termasuk kategori generasi milenial itu tidak ada pakem yang pasti. Ada yang bilang generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1977 hingga tahun 1994, ada pula yang bilang untuk kelahiran 1981 hingga 2000. Ada juga yang berpendapat lain.

Tapi jika ditilik dari definisi generasi milenial, maka teman saya tadi itu termasuk di dalamnya. Juga berjuta orang lainnya, yang saat ini sudah mulai berperan penting di bidang perekonomian, termasuk fiskal negara kita pada khususnya, dan dunia secara keseluruhan. Jadi generasi milenial itu tidak bisa didefinisikan hanya sebagai generasi yang saat ini masih kanak-kanak, alay, ababil dan sebagainya.

Saya ini termasuk pribadi yang percaya bahwa tiap-tiap kita tidak perlu pun tidak akan mampu untuk mengetahui segala hal di dunia. Manusia hadir ke dunia, dengan modal, kondisi, dan tantangan yang berbeda-beda. Maka jika ilmu adalah bekal hidup, maka yang dibawa tak akan dan memang tak harus sama antara satu orang dengan lainnya.

Tak usah hal yang gawat bin hebat, hal yang remeh temeh lagi sepele pun tak semua kita kuasai. Makanya dikatakan bahwa orang lain pasti tahu sesuatu yang tidak kita ketahui.

Itulah kenapa aslinya, setelah dipikir-pikir lagi, adalah hal yang wajar jika penulis yang kemarin sempat menghebohkan dunia perpajakan Indonesia tidak terlalu familiar dengan perpajakan dari sisi aturan, tata cara apalagi filosofinya.

Adapun yang menggelitik bagi saya adalah penulis yang hidup di dunia literasi, nampak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Tapi bisa saja saya salah. Bisa jadi kegelisahannya itu adalah endapan kekesalan akan perpajakan selama kurun waktu bertahun-tahun lamanya. Orang sepertinya tentu akan banyak membaca dan mencari tahu akan sesuatu sebelum mengeluhkannya, bukan?

Jangan remehkan beliau, pejuang literasi negeri ini lho! Bagaimana jika dia selama bertahun-tahun menjadi Wajib Pajak, menahan diri untuk mengamuk, hingga akhirnya berkesimpulan bahwa pajak itu zalim kepada profesinya?

Jika demikian lantas apa yang terjadi? Saya, tiap kali bekerja, terutama ketika berhadapan dengan Wajib Pajak, satu hal yang saya ingat-ingat terus adalah soal fitrah manusia yang dari sananya memang tidak suka bayar pajak.

Manusiawi kok jika sampean tidak suka membayar pajak. Makanya sampai diwajibkan. Bukankah sesuatu yang diwajibkan itu pastilah hal yang berat, serius dan tak main-main?

Namun ketidaksukaan akan sesuatu yang diwajibkan kepada kita, tak lantas jadi menggugurkan kewajiban itu sendiri, kan? Kewajiban itu akan terus ada, peduli setan soal apakah kita menyukainya atau membenci hingga makan hati berulam jantung karenanya.

Maka Direktorat Jenderal Pajak (DJP) selaku pengemban tugas mengumpulkan pajak, selain berkewajiban menegakkan peraturan perpajakan dalam bentuk law enforcement, juga bertugas melakukan edukasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam.membayar pajak. Ingat, kesadaran membayar pajak, bukan membayar pajak dengan penuh suka cita.

Kembali ke keluhan teman saya tadi, saya lalu bertanya kepadanya, tentang siapakah yang dia maksudkan dengan “kehumasan kita”, rupanya yang dia maksud adalah akun sosial media milik DJP. Itupun yang dia maksud hanya akun Twitter saja. Dan hanya akun @DitjenPajakRI, tidak termasuk akun satunya, @Kring_Pajak.

Saya lalu menjelaskan kepada teman saya itu, bahwa akun @DitjenPajakRI yang dia anggap terlalu sibuk mengurusi generasi milenial, hanyalah sebagian kecil dari yang dilakukan kehumasan DJP.

Di luar itu, masih ada kok penyuluhan baik berbentuk workshop, sosialisasi, atau pelatihan baik kepada pihak eksternal, maupun ke pihak internal. Baik soal perpajakan, maupun soal lain seperti teknik komunikasi, misalnya.

Ada juga sambungan telepon bernama Kring Pajak yang dengan cukup membanggakan punya segudang prestasi. Ada juga pengelola situs resmi yang juga bertugas mengedukasi para pembacanya.

Dan namanya juga kehumasan, ia tak bisa dan tak boleh bertingkah kelewat batas, misalnya secara sepihak melakukan tindakan yang masuk kategori law enforcement.

Bak sedang bertinju, saya lalu menyusupkan pukulan uppercut kepada teman saya itu, dengan berujar:

Sampean saja luput dalam memandang kehumasan instansi kita, mosok mau terus-terusan marah sih ke penulis itu?”

Kita bisa saja bilang, harusnya tidak demikian yang dilakukan oleh si penulis, ada banyak cara lain. Akan tetapi kita hidup di era yang menyediakan begitu banyak fasilitas untuk menyampaikan aspirasi, salah satunya sosial media. Dan kita berada di era yang membuat keluh kesah pribadi di media sosial, bisa menyebar bak virus (viral) di media massa. Begitu juga sebaliknya, dari media massa ke media sosial.

Terima saja dulu soal itu. Bahwa kita semua masih agak kaget dan meraba-raba kemajuan jaman yang terasa makin sulit untuk dikejar. Era baru, tantangan baru, katanya.

Banyak dari kita yang tertatih-tatih, bahkan nampak menyerah dengan kemajuan jaman, dan lalu sibuk dengan nostalgia tentang betapa elok jaman dulu yang pernah dilalui. Banyak juga yang karena kebingungan, namun tak sudi dianggap ketinggalan jaman, menjadi lebay, dan over-acting dalam menggunakan hal-hal baru beraroma teknologi tadi.

Karena saya yakin tiap dari kita ingin jadi manusia yang baik dan berbudi pekerti, maka saya juga yakin bahwa menghadapi orang-orang yang demikian, tak sepantasnya kita lantas abai, acuh atau malah ikut lebay dan over-reacting.

Pada akhirnya, kita akan mencari kesepakatan di jalan tengah dalam segala sesuatu. Apalagi untuk level negara, dan negara kita ini sangat besar, sangat luas dan sangat beragam.

Sebagai orang Jawa, saya selalu ingat pesan orang-orang tua jaman dulu, bahwa selain berusaha untuk ‘bener’, saya juga harus senantiasa berjuang untuk ‘pener‘. Bahwa saya tak bisa adigang-adigung-adiguna mentang-mentang (merasa) benar, lalu saya tidak berpikir apakah tindakan saya itu pantas atau tidak.

Saya rasa benar, nasehat guru saya dulu, ketika marah, hendaklah saya menahan diri. Bersembunyi di kamar mandi bilamana perlu. Karena marah hanya akan menyisakan malu, akibat tindakan tak terkendali di luar kepatutan.

Endapkan segala amarah dan kecewa, sebelum diutarakan, apalagi diumbar.

“Halah! Bukannya kamu juga kecewa dengan siaran pers kemarin?”

“Iya. Kenapa? Tak boleh seseorang itu kecewa?”

Kecewa, marah, atau bahkan putus asa, sebagaimana ketidaksukaan dalam membayar pajak, adalah hal yang manusiawi. Tinggal bagaimana kita bersikap ketika menanggung semua perasaan itu.

Dan ngomong-omong, tiap dari kita itu aslinya juga humas kok!

3 thoughts on “Huma(n)s

  1. Di zaman yang dinamis ini, menghadapi generasi “alpha” memang Kita harus lebih membuka diri. Setuju dengan abang, saya juga sempat kecewa dengan response “langitan” tapi setelah melihat dalam bingkai yang lebih besar, Alhamdulillah kekecewaan saya menguap. Mungkin itulah jalan terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *