Memaafkan U2

Tanggal 1 Desember lalu, U2 merilis album studio ke-14 mereka, berjudul “Songs of Experience’, sebuah sekuel dari album “Songs of Innocence” (2014) yang menggemparkan dunia karena album itu dirilis secara gratis dan hadir tanpa diundang di laman iTunes tiap orang. Album yang baru dirilis beberapa hari ini melalui proses yang sangat panjang, dan beberapa kali mundur lama dari jadwal rilis semula.

Sebelum membahas albumnya, terlebih dahulu saya ingin mengajak pembaca semua mengingat bahwa U2 masih dianggap sebagai salah satu band terbesar di dunia saat ini. Di dunia ini. Sebuah titel yang tak main-main. Maka membuat album akan membutuhkan banyak perenungan dan pertimbangan.

Apalagi U2 sudah melabeli diri sebagai band konser, dengan semangat semua lagu yang diciptakan harus bisa dinyanyikan di konser di depan ribuan orang. Efeknya adalah lagu-lagu yang digubah harus bersahabat dengan radio (radio-frendly) dan mengusung tema-tema kontemporer serta sebisa mungkin membuat pendengarnya membatin: “Gue banget nih!”.

Nah, di sini yang penuh jebakan batman. Di satu sisi Om-om di U2 ingin mengeksplorasi musik, di sisi lain mereka mengeksploitasi musik dengan nama besar mereka. Pinginnya terus mencipta karya baru dengan gagah berani, namun terkungkung akan nama besar dan pencapaian di masa silam.

Semua band yang berusia lebih dari satu dekade, rasa-rasanya mengalami yang demikian. Penggemar pun tak kurang menyebalkan dengan terus menerus mencerca tiap karya baru membandingkannya dengan karya lama. Dan untuk band sebesar U2, dilemanya jauh lebih besar. Mau cuek tidak mendengarkan penggemar, salah. Mau terlalu menyesuaikan diri dengan penggemar lama dan berusaha menggaet penggemar baru, susah.

Fanatisme memang ada di dalam segala hal, dan berbahaya untuk levelnya masing-masing. Banyak orang yang lupa bahwa dia sendiri pun berubah, tapi berani mengejek band yang dia anggap sebagai kesayangan. Bedanya adalah para penggemar itu tak punya kritikus.

Saya yakin, U2 sering (bukan lagi pernah) merasa jenuh dengan setlist tour mereka. Dengan bekal 14 album selama berkarir di dunia musik selama lebih dari 4 dekade, susunan lagu yang mereka bawakan itu-itu saja.

Sebagai orang di usia 30-an dan banyak cicilan, saya memahami kebutuhan band sebesar U2 akan uang. Akan terlalu naif jika saya menyuruh Bono dan kawan-kawan untuk acuh tak acuh dengan penggemar, dengan penonton konser, dengan penjualan album dan dengan aliran uang ke rekening mereka.

Tapi sebagai penggemar U2 sejak lama, saya sudah berada di titik yang tak lagi merasa wajib menyukai segala yang U2 ciptakan, atas nama cinta. Maksud saya, bisa jadi album U2 yang bagus yang terakhir dirilis itu “Achtung Baby” (1991), tapi saya tetap mencintai U2 hingga sekarang.

Masih teringat tahun 2014, ketika U2 merilis “Songs of Innocent”, para pengguna iTunes marah secara berjamaah, merasa ada yang bertamu tanpa diundang, bahkan tanpa mengetuk pintu rumah mereka. Dan ketambahan, album tersebut tak disukai oleh banyak orang. Strategi marketing album tersebut menjadi yang terparah sepanjang karier U2.

Secara materi, harus diakui saya menyukai album itu setelah mendengarkan beberapa kali, yang bagi saya adalah tanda sebuah album itu bagus. Saya masih sering mendengarkan beberapa lagu dari album tersebut, terutama versi deluxe yang berisi tambahan lagu-lagu versi akustik, yang bagi saya justru sangat bagus. Lebih bagus dari versi aslinya.

Tak lama setelah rilis album yang menggemparkan (baik bagi yang sungguh-sungguh merasa terganggu dengan kemunculan U2 di laman iTunes mereka, atau bagi yang sekadar ikut-ikutan saja), U2 mengumumkan bahwa “Songs of Innocence” adalah pembuka jalan bagi album selanjutnya, “Songs of Experience”.

Tiga tahun berlalu, akhirnya “Songs of Experience” dirilis juga.

Jika harus menjelaskan album ini dalam satu kalimat, maka saya akan menulis:

U2 tetap setia membuat lagu yg dapat mereka mainkan dalam konser, apalah artinya U2 tanpa konser? Dan di tengah dunia yang membara ini, U2 secara BERPENGALAMAN membahas KEPOLOSAN.

Bono, dengan cuek mainan auto tunes, sehingga terdengar seperti vokal di lagu milik Daft Punk. The Edge juga mainan gitar, ada sedikit Hendrix di sana dan sedikit Harrison di sini. Larry dan Adam lagi solid-solidnya main bass dan drums. Penuh dan playful.

Tema lirik yang masih dipegang oleh Bono, seperti kembali membahas usaha U2 menebar perdamaian dan kedamaian, rupanya mereka sungguh-sungguh saat bbrp waktu lalu bilang album barunya tertunda krn banyaknya yg terjadi di dunia belakangan ini. Mulai dari demokrasi di Amerika dengan pemimpin barunya, hingga membahas konflik peperangan dan pengungsi.

U2, sebagai sekumpulan orang gaek, dengan cuek mengumbar kata cinta di album ini, bahkan dg tegas bilang “Love is what we have left”.

Apakah Bono menulis lagu soal istrinya (lagi)? Iya. Di lagu Landlady. Tak apa. Ini cuma seperti kita mengamati linikala Instagram temen yg isinya soal dia pergi ke mana, ngapain, dan bareng siapa.

U2 juga bikin lagu yg mengolok-olok diri mereka. The Showman (Little More Better). Lagu yang bagus, actually. Liriknya itu sudut pandang U2 tentang diri mereka, dengan rentang karier yang sangat panjang, dan mereka bilang: “Lu pasti ngerasa keren kan?” ke diri mereka sendiri.

Dan album ini tumbuh dan makin tumbuh di dalam diri saya. Meski awalnya saya tak begitu menyukainya saat pertama kali mendengarkannya, lama-lama saya bisa mengerti album ini. Dan menyukainya.

Dengan album ‘Songs of Experience’, saya memaafkan U2 atas album ‘Songs of Innocent’. Taqobballahu minna wa minkum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *