Hari Ibu

Hari ini di Indonesia tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Ditetapkan pada tahun 1959 oleh Sukarno guna memperingati hari ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928, sebagai tonggak lahirnya semangat perempuan Indonesia dalam semangat kebangsaan dan bernegara.

Sampai saat ini hari Ibu masih diperingati sebagai hari yang dikhusus-khususkan untuk memberi penghormatan kepada Ibu. Hari utama dari seluruh hari dalam satu tahun bagi rakyat Indonesia untuk secara serempak memuji Ibu. Bahwa Ibu adalah sosok yang harus dihormati dan dihargai. Bahwa mereka yang tidak menghormati Ibu, adalah golongan manusia-manusia yang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih.

Bagaimana kita selama ini memperingati Hari Ibu? Dalam skala nasional, Hari Ibu sering dirayakan dengan lomba-lomba yang melibatkan para Ibu, yang di penghujung hari membuat saya sering mikir: jadi penghormatan itu pada intinya adalah semacam selebrasi yang ujung-ujungnya malah merepotkan yang dihormati?

Kali lain Hari Ibu juga diperingati dengan cara membuat lomba-lomba dengan peserta bukan dari kalangan Ibu-ibu. Tema lombanya biasanya berupa lomba memasak, tata rias, berbusana dan lain sebagainya. Lomba jenis ini bertujuan untuk menghibur penonton, dengan harapan peserta lomba gagal atau minimal canggung menjalani lomba, mengerjakan sesuatu yang lebih umum dikerjakan oleh perempuan.

Mengambil contoh tiga jenis lomba di atas, memasak, tata rias dan berbusana, kita tahu bahwa itu bukan monopoli perempuan belaka. Belakangan muncul anggapan bahwa hal-hal tersebut justru lebih dikuasai oleh para lelaki, yang memang menekuni bidang tersebut. Jadi tujuan lomba tersebut, bukan untuk menunjukkan bahwa tugas Ibu (memasak, tata rias dan berbusana) itu sulit, karena ini lebih ke soal terbiasa atau tidak.

Dalam skala yang lebih kecil, Hari Ibu dirayakan dengan kampanye ‘mengunjungi’ Ibu, baik bertemu langsung, berkirim hadiah ataupun menelpon. Sudah beberapa tahun ini saya menjumpai ajakan menelpon Ibu dengan cara membuat khalayak merasa tak enak karena lebih sering menelpon orang selain Ibu.

Pokoknya hari ini adalah tentang Ibu. Bahkan golongan yang biasanya fokus pada perayaan hari besar sesuai tuntunan agamanya pun tak keberatan merayakan hari spesial ini. Soalnya hari ini dikhususkan untuk menghormati makhluk mulia, bernama Ibu.

Di sana sini akan dibahas tentang anjuran Nabi untuk menghormati Ibu, lalu menghormati Ibu, kemudian menghormati Ibu, baru kita menghormati Ayah. Kita disuruh menghormati Ibu dan kata Ibu disebut dengan tegas sebanyak tiga kali, sebelum menyebut Ayah.

Tidak, saya tidak iri dengan itu. Bagi saya, secara umum, normalnya, perempuan lebih berperan bagi anak-anaknya, dibanding Ayah. Ibu secara umum itu mulai dari mengandung 9 bulan, melahirkan, menyusui, mendidik dan seterusnya. Dan tentu kita tidak lupa, bahwa Ayah tidak melakukan itu semua, mengandung, melahirkan dan menyusui, bukan karena tidak mau, melainkan karena tidak bisa. Maka penghormatan ini lebih kepada selebrasi rasa syukur atas semua yang telah diberikan oleh makhluk bernama Ibu.

Tapi banyak juga Ibu yang brengsek.

Konsep ‘Ibu’ yang demikian agung, bisa luluh lantak ketika status ‘Ibu’ diampu oleh manusia brengsek berjenis kelamin perempuan. Untuk tidak melebar ke pembahasan soal status perempuan sebagai istri, pacar, sahabat, rekan kerja, pengendara motor matic, dan sebagainya, saya hanya akan membahas status Ibu saja.

Saya tidak pernah merasa berkewajiban untuk menelpon Ibu saya tiap tanggal 22 Desember hanya untuk mengucapkan selamat Hari Ibu. Ibu saya, dan juga keluarga saya, tidak terbiasa dengan selebrasi yang bersifat seremonial dan juga tak terlatih untuk mengumbar kasih sayang secara terang-terangan.

Sejak kecil kami terbiasa tidak merayakan ulang tahun. Tak ada rutinitas membangunkan anggota keluarga yang ulang tahun tengah malam hanya untuk diberi ucapan dan kue ulang tahun. Tapi bukan berarti tidak ada cinta dan kasih sayang di sana, bukan?

Pada akhirnya cinta dan kasih sayang bersifat personal, dan masing-masing punya cara untuk mengungkapkannya. Tak sama, dan tak harus sama.

Ibu saya bukan wanita yang terkenal sejagat raya sebagai sosok perempuan cerdas lagi cantik dan punya pengaruh besar dalam perputaran kebudayaan manusia di bumi. Ibu saya wanita sederhana, dengan pola pikir yang juga sederhana. Tapi dia adalah Ibu saya. Dan Ibu saya adalah Ibu terbaik yang saya miliki. Karena Ibu saya cuma satu itu.

Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak punya hubungan yang baik dengan Ibu mereka? Baik yang ditinggal mati sejak kecil, atau ditinggal betulan karena satu dan lain hal. Atau yang sejak kecil hidup bersama Ibu, namun hubungannya selalu buruk sejak si anak menginjak usia pubertas.

Apakah mereka juga harus memaksakan diri menelpon Ibunya di hari ini? Apakah mereka yang masih mendendam dengan perlakuan Ibunya, yang membuatnya depresi, juga harus mengkhususkan hari ini untuk memikirkan Ibunya? Bisa iya, bisa tidak. Sebagaimana cara orang yang berbeda-beda dalam mengekspresikan cinta dan kasih sayang, para Ibu juga berbeda-beda. Baik soal fisik, perangai, kondisi ekonomi, dan lainnya.

Bisa jadi, tidak menghubungi Ibu, di hari Ibu adalah hal yang lebih baik dilakukan oleh seseorang. Bisa jadi, tidak memikirkan Ibu justru lebih bermanfaat bagi kesehatan mental seseorang. Hidup orang, tak ada yang persis sama. Juga isi kepala. Maka saya tak pernah terlalu suka dengan penyeragaman, karena cenderung gebyah uyah, generalisasi yang berujung pada pemaksaan.

Bagaimana seseorang bersikap tentang Hari Ibu, itu terserah dia, menurut saya. Bagiku Ibuku, bagimu Ibumu.

Bagi masing-masing orang, bisa saja Ibu mereka adalah Ibu terbaik, meskipun tak pernah ada lomba setingkat dunia untuk membuktikannya. Bagi saya, Ibu orang lain, kemungkinan besar bukan urusan saya. Ibumu biasa saja, bagi saya, dan Ibuku biasa saja, bagimu.

Selamat Hari Ibu.

*gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *