Hujan

Kemarin aku kehujanan saat bersepeda. Yang berujung tenggorokanku seperti dihuni sekumpulan salak yang belum dikupas. Mungkin salak pondoh, tak penting. Namun entah apa yang hendak kusampaikan ini penting ataupun tidak. Yang pasti, ketika hujan mengguyurku, ketika riak air menciprati wajahku setelah terlempar dari deru roda yang tak dibungkus sepatbor, aku seperti terlempar pindah ruang dan waktu.

Aku tidak lagi berada di tepat dan di waktu aku tengah berada saat itu. Bagaimana ya menjelaskan keberadaanku tanpa menyebutkan tempatnya? Intinya aku tiba-tiba saja merasa berpindah ruang dan waktu, tak lagi berada di tempatku yang sebelumnya, dan aku merasa kembali menjadi anak-anak. Namun tetap bersepeda. Aku tengah mengayuh sepeda pemberian bapak yang berwarna hijau, berat dan menurutku bermodel sepeda perempuan. Yang kumaksud bermodel sepeda perempuan itu juga menurut teman-temanku saja. Aslinya aku baru tahu, ada sepeda berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Sepedaku itu besi melintang bagian atasnya tidak lurus horisontal dan menghalangi selangkangan seperti sepeda teman-temanku yang lain. Ia miring hampir seirama dengan besi bagian bawahnya. Mungkin agar mudah bagi perempuan yang memakai rok untuk dapat bersepeda, demikian fantasiku. Sepedaku ini berat. Dan memalukan.

Semakin kukayuh, semakin benci rasanya. Aku menduga, bapak memilihkanku sepeda ‘berkelamin’ perempuan ini karena aku tak cukup tinggi, sehingga dia khawatir aku kesulitan bersepeda dan berujung menyerah. Aku juga menduga, otak sederhana bapak berpikir bahwa sepeda yang bagus itu terbuat dari besi. Besi itu berat. Maka sepeda yang bagus itu yang berat. Entahlah, aku suka memikirkannya demikian. Aku selalu menganggap otak bapak dan ibu itu terlampau sederhana sehingga sering tertinggal zaman. Tidak sepertiku. Begitu jumawaku.

Tunggu, aku ingin bercerita soal hujan, bukan tentang sepeda, apalagi tentang bapak ibuku. Ingatanku membawaku ke sebuah bus antar kota antar provinsi, terminal Lebak Bulus tujuannya. Iya, dulu ada terminal itu. Perusahaan otobus ini merupakan perusahaan transportasi penguasa provinsiku, tuajuannya tentu saja ibu kota. Aku menaiki bus ini karena aku diterima di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, dan dengan cuek aku berangkat ke sana sendirian tanpa pengalaman. Hanya berbekal secarik kertas bertuliskan alamat saudara dari ibu lengkap dengan nomor-nomor angkot yang harus kunaiki, dan nomor telepon seluler, jaga-jaga aku membutuhkannya.

Kertas itu aslinya kusimpan di dompet. Tak ada cadangan apalagi upaya lebih untuk menghafalkannya. Aku yang sekarang tentu menertawakan kebodohan macam itu. Betapa naif dan dungunya. Seolah tak akan ada hal buruk yang bisa dan akan terjadi padamu, Anak Muda! Di luar bus, hujan cukup deras, membuatku berpikir bagimana nasib bapak yang mengantarkanku ke terminal dengan sepeda motor 2 tak kesayangannya itu? Aku kenal betul lelaki itu. Jika hujan, dia merasa terlalu jantan untuk memakai payung, atau memakai jas hujan jika tengah bersepeda motor. Dia yang dulu adalah aku sekarang.

Bulir-bulir hujan di dinding kaca jendela bus mengalir ke bawah dan entah bagaimana caranya, tetap tidak dalam aliran yang lurus. Seperti sungai tanpa bantarannya. Dia mengalir laju, lalu tiba-tiba berbelok, berpencar, dan lalu habis begitu saja. Butiran air itu akhirnya habis oleh petualangannya sendiri di atas kaca jendela. Pernah kuberpikir bahwa sungai di atas jendela kaca itu betulan bertingkah seperti tanah dan air sungguhan. Airnya meresap menelusup masuk ke dalam kaca. Imajinasi konyol tentu saja. Tapi zaman itu belum ada gawai elektronika yang bisa kupakai untuk menyibukkan pikiranku.

Sementara udara di dalam bus menjadi sangat dingin. Aslinya, pendingin udara bus ini biasa-biasa saja. Ini tentu saja ada kaitannya dengan selisih tarif karcisnya yang tak berbeda jauh dengan kelas ekonomi. Tak dingin, tetapi mampu menimbulkan ilusi seolah pihak bus menyediakan pendingin udara nomor wahid. Dan hujan kali ini sukses membuat udara di dalam bus betulan dingin luar biasa. Ditambah, lubang pendingin udara di atasku bocor, membuatnya meneteskan air sedingin es tepat persis di atas ubun-ubunku. Aku berharap aku memakai topi kala itu, tapi aku sudah berhenti memakai topi begitu lulus SMA. Aku sudah mulai bsia menerima rambutku yang ikal, yang sering jadi olok-olok, dengan tak lagi menutupinya dengan topi. Sial.

Namanya juga bus malam, lampu penerangan di dalam tentu dimatikan ketika mulai melakukan perjalanannya menembus malam. Dan seperti perjalanan manapun, segelap dan segulita apapun kendaraan kita, tetap saja ada cahaya yang memancar dair luar. KIta bisa terganggu karenanya, atau malah bisa bernafas lega atas kehadirannya. Bagiku, remang cahaya dari pinggiran jalan pantura ini bisa membuatku menjadi pelukis. Dengan kaca jendela bus sebagai kanvasnya. Akulah Affandi, akulah Raden Saleh. Dan aku sibuk menggambar simbol-simbol entah apa yang ajaibnya bisa mengerucutkan ingatan pada seorang gadis yang kutinggalkan beberapa waktu silam, cinta monyetku.

Ketika bus bersua lampu merah yang mengharuskannya berhenti, kulihat di luar jendela, air hujan seperti dimuntahkan langit dan dihempaskan gravitasi membentur aspal, tanah, atau genangan air pinggir jalan. Seperti anak-anak katak yang berlatih melompat, ujarku dalam hati. Percikan-percikannya kuanggap anak-anak kata yang sedang melompat sejak aku kecil. Bahkan aku yakin aku punya fantasi air hujan menjelma katak ini sejak kelas 2 atau kelas 3 bangku sekolah dasar. Waktu itu aku sedang bermain di rumah kawanku. Rumah milik sekolah tempatku menimba ilmu. Temanku ini anak dari seorang penjaga sekolah. Sore itu hujan deras berlangsung lama sehingga membuat lelah para penghuni rumah hingga lalu memutuskan untuk berbaring dan tidur. Aku sendirian memandang kaca jendela rumah bagian depan jauh ke jalan raya dengan lalu lalangnya.

Seperti katak, kataku dari balik jendela rumah temanku. Seperti katak, ujarku dari balik jendela bus. Seperti katak, kata batinku sambil terus mengayuh sepedaku. Seper… tunggu, kalian dengar ada suara seperti memanggil-manggil seseorang? Itu… dengar, kan? Jelas sekali suaranya…

“Ayah!”, panggil suara itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *