Untukmu

(Tulisan ini telah mengalami beberapa kali perubahan) Tadi pagi saya mendapatkan kiriman warta melalui gawai saya, tentang seorang penulis kondang yang memutuskan untuk menghentikan seluruh penerbitan buku-bukunya dengan alasan ketidakadilan aturan perpajakan terhadap profesi penulis. Saya lalu menyambangi laman akun sosial media penulis tersebut di sini dan di sini, dan membaca detil keluh-kesahnya. Emosional, namun… Read more Untukmu

Teman

Hai kalian-kalian makhluk melata di muka bumi yang tak punya hal lebih penting, atau setidak-tidaknya hal yang lebih pentingpun masih bisa diabaikan untuk sejenak mampir membaca tulisan ini, terima kasih. Iya terima kasih, berharga atau tidak, kita tak punya waktu yang dijatahkan pada diri kita. Makanya saya beneran ingin berterima kasih pada kalian yang masih… Read more Teman

Blog Versus Micro-Blogging

Saya makin yakin bahwa menulis dan membaca adalah dua hal yang sebanding dan sebangun. Normalnya, makin banyak membaca, makin banyak pula hal yang bisa ditulis. Belakangan saya memang jarang sekali membaca (baca: tidak pernah). Banyak alasan yang bisa saya bualkan, tapi kemalasanlah alasan sebenar-benarnya. Saya bukan penulis yang tulisannya nyangkut di surat kabar, atau novelnya… Read more Blog Versus Micro-Blogging

Ngendonesia: Sebuah Catatan

Kata sebenarnya adalah Indonesia. Negara kita. Hanya saja dalam keseharian lisan kita, akan lebih nyaman menyebutnya dengan endonesia. Dengan “e”, bukannya “i”. Dengan demikian bisa dibilang “ngendonesia” mempunyai makna meng-Indonesia. Meng-Indonesia bisa punya banyak arti. (Usaha) menjadi Indonesia, melakukan sesuatu dengan cara Indonesia, berpikir dengan pola pikir atau sudut pandang (orang) Indonesia, atau segala sesuatu… Read more Ngendonesia: Sebuah Catatan